“Public Relations”Dalam Hidup Menggereja
Bulan November tahun lalu Perth, Australia Barat, menjadi tuan rumah International Public Relations Association Conference. Anggotanya yang hadir sekitar 430 orang dan 46 negara. International Public Relations Association (IPRA) berkantor pusat di Geneva Swiss. Konferensi bertempat di Hyatt Regency Hotel, di Perth. Pada malam penutupan diadakan upacara pemberian tanda penghargaan kepada para anggota IPRA yang telah mencapai prestasi tinggi dalam mengembangkan Public Relations (PR) di negaranya. Maju tidaknya perkembangan suatu usaha ditentukan pula oleh besar kecilnya kiprah di bidang PR. Bagi kita mungkin PR itu sesuatu yang baru dan bahkan 10 tahun terakhir muncul di mana-mana. Tujuannya pada intinya menanamkan secara mantap dan memelihara “Mutual Understanding” atau saling pengertian antara suatu organisasi dengan masyarakat luar. Masyarakat akan semakin tertarik terhadap apa yang mereka kenal dan percaya. jika ada saling pengertian yang baik. Dalam dunia bisnis para langganan lebih mudah diyakinkan untuk membeli sesuatu yang mereka kenal dan percayai. Dengan adanya saling mengenal kita bisa memutuskan kelembaman yang disebabkan oleh ketidaktahuan, prasangka negative, dan permusuhan. Akhirnva hubungan atau komunikasi yang harmonis mudah dijalin antara organisasi dan masyarakat di luarnya. Sudah barang tentu untuk menyukseskan usaha PR. tidak bisa berdiri sendiri dan harus juga ditunjang oleh kegiatan lain di bidang marketing, advertising, lobbying, propaganda, publisitas, dan kegiatan informasi lainnya.
Public Relations pada abad-abad silam
Pericles (493-429 SM) dan Athena lewat karya seninya mendapatkan peluang untuk mempengaruhi publik secara luar biasa dan sukses. Di bawah kepemimpinannya Athena bisa maju dengan pesat dan dikenal oleh dunia luas.
Alexander Agung (356-323 SM) sudah bergerak dalam mempengaruhi opini publik dengan menyebarluaskan mata uang yang ada gambar dirinya di seluruh daerah pemerintahannya. Ia menjadi raja Macedonia dan dengan pemerintahannya kultur Yunani mulai berkembang dan dikenal di dunia Timur.
Para penguasa Mesir berhasil membangun candi-candi, keraton-keraton dan di situ dipertunjukkan pagelaran music, tonil, syair-syair dan orang-orang terkenal yang merupakan image dan Raja Salomon sebagai penguasa agung (965-925 SM)
Pada zaman Yunani dengan pengembangan Retorikanya, pengaruhnya berkembang bukannya karena kata-kata yang diucapkan itu sebagai medium yang efisien, melainkan karena argumentasi terhadap seni budaya dan pembentukan seni pahat.
Pada zaman Romawi, ada usaha-usaha untuk mempertahankan strategi-strategi publikasi, pembentukan image dan propaganda serta usaha-usaha team yang benar-benar mencurahkan perhatian terhadap kepentingan-kepentingannya dan deskripsi dan sejarahnya demi kepentingan PR bagi dirinya. Propaganda pada waktu pemilihan pemimpin-pemimpin kerajaan Romawi dikembangkan lewat ideologi mata uangnya tentang kesatuan dan satu dewa. Kultus terhadap patung-patung mitologis, candi-candi,. publikasi selama mengadakan pengiriman tentara untuk maju ke medan perang. Penulis-penulis sejarah mengagung-agungkan penguasa-penguasa dan tokoh-tokoh masyarakat. Cara demikian ini biasa di dunia Timur, misalnya dengan pembuatan patung-patung untuk para penguasa maupun tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini juga terjadi di masa kekuasaan Napoleon Bonaparte I (1769-1821): Roosevelt (1882-1945). Hitler (1889-1945). John Kennedy (1917-1963). Di masa itu ditulis tentang diri mereka agar garis-garis kekuasaannya tetap tampak dan bisa mempengaruhi opini publik. Hal semacam ini juga terjadi di lingkungan masyarakat agama.
PR sekarang berkembang sebagai suatu yang professional dan mulai masuk di lingkungan akademis. Hal ini dimulai sejak adanya Revolusi Amerika (1775-1783) yang menilai PR sebagai jantungnya promosi di waktu itu. Masyarakat selalu dilanda perubahan. Organisas-organisasi, lembaga-lembaga, perusahaan-perusahaan, dan negara terus menerus dihadapkan pada perubahan baik internal maupun eksternal. Perubahan-perubahan ini meminta reaksi dan jawaban yang strategis dan PR harus menerjemahkan jawaban-jawaban itu dalam perencanaan. Gereja sebagai "Prefect Society" kiranya juga masuk dalam proses perubahan ini dan tidak bisa terlepas dan PR dalam hidup bemegara. berbangsa dan bermasyarakat.
Dalam lingkup Agama Katolik
Jika kita menyimak Kitab Suci bahwa kelahiran Kristus itu sudah dipersiapkan sejak beribu-ribu tahun sebelum Masehi, khususnya oleh para nabi. PR di sini mengantisipasi kedatangan Juru Selamat. Ternyata antisipasi ini dalam proses perjalanannya menghadapi banyak tantangan dan resiko. PR tidak lain mempersiapkan warga masyarakat untuk saling mengerti dan memupuk serta memelihara saling pengertian - Mutual Understanding - agar tidak salah tafsir tentang Kristus. Untuk mencapainya harus ditempuh pula Jalan-jalan sulit yang penuh resiko. Pesan dan pribadi berapa Nabi ditolak bahkan oleh umat Israel sendiri, bahkan Yohanes Pemandi sendiri sampai dipenggal lehemya. PR jangan hanya dilihat sebagai suatu yang berjalan mulus dan enak. tetapi untuk kesuksesan suatu misi harus pula ditempuh jalan hidup atau mati. Kristus sendiri sampai mengorbankan hidupnya di kayu salib, dan untuk itu hendaknya kita kembali merenungkan kata-kata seperti tertulis dalam Credo: "Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita". Setiap Minggu dalam Ekaristi berulang-ulang kita ucapkan bersama. Untuk meyakinkan dan membuat mengerti bahwa Kristus hanya datang dengan maksud dan tujuan yang luhur ini. maka PR besar sekali peranannya. Setelah Kristus wafat, tiba gilirannya para rasul menanamkan “Mutual Understanding” tentang maksud dan tujuan luhur Kedatangan Kristus. Tetapi tantangan harus dihadapi dengan segala macam resiko seperti misalnya yang dialami Paulus dan Petrus dan para pengikutnya. Dalam pengembangan pewartaan perlu kita simak kembali apa yang telah dikembangkan di abad-abad lampau. Karena masyarakat kita sebagian besar tidak beragama Kristen agar “Mutual Understanding” terjalin. diperlukan pengembangan, kegiatan di bidang PR dengan bekerja keras. Umat Katolik di Indonesia harus bekerja keras untuk mencapai “Mutual Understanding” sehingga terjalin kerukunan antar warga umat beragama sendiri, antar umat agama yang satu dengan yang lain dan antar umat beragama dengan Pemerintah. Semua pihak harus ikut berusaha dan tidak bisa hanya sepihak saja. Proses ini masih perlu dilalui dan dikembangkan dengan usaha-usaha keras, bukan untuk mengkristenkan orang lain tetapi untuk mengenalkan Kristus agar mereka mengerti serta menerima Kristus. PR sendiri sebenarnya sudah mengandung pewartaan. Hal ini mendapatkan tekanan kuat dalam Konferensi Asia tentang Evangelisasi di Manila tahun 1991.
Konsili Vatikan sendiri melihat trend dan gejala perubahan yang cepat dan hebat di abad XX dan mengambil langkah pembinaan untuk 50 tahun mendatang. Konsili Vatikan II memberikan reaksi terhadap perubahan-perubahan dan berusaha menjawab tantangan tantangannya antara lain dengan menerbitkan EnsikIik-EnsikIik yang berusaha mengembangkan lebih lanjut pedoman-edoman idiil dan pastoral. Yang perlu dipelajari adalah Ensiklik "Redemptoris Missio" yang dibahas pada pertemuan tingkat Asia di Manila tahun 1991 dengan tema "Open the door to Christ". Diingatkan bahwa kita harus bekerja keras untuk mewartakan Injil dengan misi seperti termaktub dalam Credo "Ia turun dari surga untuk kita dan untuk keselamatan kita” Sulitlah jika PR yang mengarah ke Mutual Understanding tidak kita kembangkan dengan giat dan bekerja dengan keras. Kunjungan-kunjungan Sri Paus ke seluruh dunia merupakan suatu bentuk luar biasa dari PR pewartaan. Semua Media masa secara sadar atau tidak ikut mewartakan Gereja Kristus.
Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Katolik hendaknya memanfaatkan sarana-sarana yang ada dan mengembangkannya untuk mencapai Mutual Understanding. Tempat-tempat ziarah mempunyai pengaruh besar untuk itu meskipun dampak spiritualitas mesti tetap dapat dirasakan. seperti di Lourdes. Salah satu bentuk pewartaan PR ialah pemakaian nama-nama permandian. Hal ini juga turut menunjang tercapainya Mutual Understanding. Kaset lagu-lagu Natal juga merupakan salah satu bentuk pewartaan juga. Sekarang makin menjamur sampai ke pelosok-pelosok dunia kiranya sudah membudaya di masyarakat maka Mutual Understanding tentang Kristus yang semakin berakar. sehingga mempermudah terjadinya dialog antar sesama sehingga mempermudah tercapainya harmonisasi dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Inilah sebenarnya tujuan khas komunikasi yaitu keharmonisan hidup. Jadi PR bukan hanya sekedar teori akademis saja. melainkan sebuah pewartaan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang pada abad sebelum Masehi itu. Sekolah-sekolah Katolik juga merupakan pola pewartaan untuk membangun dan menjalin Mutual Understanding yang akan berdampak positip di masyarakat luas apalagi trend sekarang ini adalah pengentasan kemiskinan. Jadi "option for the poor" harus menjadi suatu gerak lingkup yang mendapatkan penekanan penting. Penulis sangat terkesan pada beberapa sekolah Katolik yang diwaktu liburan menerjunkan siswanya untuk "live in" di antara para kaum miskin di pelosok pedusunan selama satu minggu bersama para pembimbingnya. Dengan demikian diharapkan para siswa semakin terbuka pada realitas orang-orang yang miskin.
Masa Adven dan Puasa itu merupakan masa-masa tobat dan matiraga. dan dalam upacara-upacara liturgis. Warna busana dipakai warna ungu. Di Keuskupan Agung Jakarta selama masa-masa itu tidak ada pernikahan Gerejani. dan umat mematuhinya serta bisa mengerti. Meskipun dalam peraturan Liturgi tidak ada larangan, namun sangat dianjurkan untuk tidak melangsungkan pernikahan di masa-masa itu. Kita hidup bermasyarakat dengan umat lain dan dalam budaya setempat. Proses Inkulturasi harus mendapatkan perhatian pula dalam memantapkan Gereja lokal. Untuk memupuk "Mutual Understanding" hendaknya bisa mengambil hikmah dari agama-agama lain dan budaya-budaya lain sejauh tidak berlawanan dengan ajaran Gereja. Kiranya bisa sangat memalukan bahwa selama masa-masa tobat kita justru berpesta pora. ini bisa menggagalkan PR pewartaan sendiri karena polah tingkah kita sendiri.
Prof. Dr. John Tondowidjojo, CM
Penulis adalah anggota IPRA
(International Public Relations Association
Visitors :154033 Org
Hits : 399031 hits
Month : 1765 Users

