Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

IMAM DAN PANGGILAN SEMINARI (MENENGAH)

Jum`at, 25 Februari 2011 15:47:11 Oleh : admin

PRASARAN KURSUS DASAR FORMATOR SEMINARI MENENGAH
DI INDONESIA, GIRISONTA, JAWA TENGAH, 16 JANUARI – 16 PEBURARI 2011


Oleh: Mgr. Dominikus Saku


PENGANTAR


• Gereja makin sadar, Imam-Imam yang baik, yang dipersiapkan secara memadai dalam proses pendidikan di Seminari,  sungguh sangat perlu di dalam Gereja. Para Imam berperan menghantar Umat Allah kepada kekudusan hidup dan membantu dalam pelaksanaan Amanat Misi. GEREJA tanpa Imam, sulit dibayangkan. TANPA IMAM, YANG BISA MENYEMANGATI KAUM AWAM BERPERAN DALAM GEREJA DAN DUNIA, YANG DAPAT MEMBANTU KAUM AWAM DALAM SEMANGAT DAN KEGIATAN KERASULAN, TENTU DENGAN USAHA MENGHAYATI  PANGGILAN SUCINYA YANG SERING SULIT, GEREJA BISA KEHILANGAN KESAKSIAN ESENSIIL DALAM MENGEMBAN MISINYA DI DUNIA.
• TETAPI BAGAIMANA GEREJA MENDIDIK PARA CALON IMAMNYA? DIBUTUHKAN SUATU PROSES FORMASI IMAMAT YANG INTEGRAL, MELIPUTI 4 BIDANG PEMBINAAN IMAM: KEMATANGAN KEPRIBADIAN, KEMATANGAN KEROHANIAN, KEMATANGAN INTELEKTUAL DAN PENDIDIKAN KETRAMPILAN PASTORAL YANG HANDAL UNTUK TUGAS PENYELAMATAN UMAT MANUSIA DALAM GEREJA (Cf. Marcial Maciel, LC, La Formazione Integrale del Sacerdote, pp. 5-10 ).
• SEMINARI: (PDV 42)
 BANYAK BENTUK/CORAKNYA; “WISMA,” RUMAH BINA, SEMINARI, dan aneka nama bentuk lainnya.
 MELEBIHI TEMPAT/RUANG MATERIIL: RUANG ROHANI, CORAK HIDUP, IKLIM YANG MENDUKUNG DAN MENJAMIN PROSES PEMBINAAN.
 AMANAT AKHIR PARA BAPA SYNODE: “HIDUP DI SEMINARI, GELANGGANG UNTUK MENDALAMI INJIL, BERARTI MENGIKUTI KRISTUS SEPERTI PARA RASUL. ANDA (FORMATOR DAN FORMANDI) DIPANDU OLEH KRISTUS MEMASUKI PENGABDIAN KEPADA ALLAH, BAPA SEMUA ORANG, DI BAWAH BIMBINGAN ROH KUDUS. DENGAN DEMIKIAN ANDA MAKIN MENYERUPAI KRISTUS, GEMBALA YANG BAIK, UNTUK SECARA LEBIH BAIK MENGABDI GEREJA DAN DUNIA SEBAGAI IMAM. SAMBIL MENYIAPKAN DIRI BAGI IMAMAT, KITA PERLU BELAJAR, BAGAIMANA DENGAN TULUS HATI MENANGGAPI PERTANYAAN KRISTUS: “BENARKAH ENGKAU MENCINTAI AKU?” (YOH 21, 15). BAGI CALON IMAM JAWABANNYA HANYA BOLEH BERARTI: PENYERAHAN DIRI SEUTUHNYA.”
 DALAM SEMINARI-SEMINARI MENENGAH YANG DIDIRIKAN UNTUK MEMBINA BENIH-BENIH PANGGILAN, PARA CALON HARUS DIBIMBING DENGAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN KHUSUS, TERUTAMA DENGAN BIMBINGAN ROHANI YANG TEPAT, UNTUK MENGIKUTI KRISTUS PENEBUS, DENGAN JIWA BESAR DAN HATI YANG MURNI. DENGAN BIMBINGAN PARA PEMIMPIN (FORMATOR) SEBAGAI BAPA, DAN PADA SAATNYA BEKERJASAMA DENGAN PARA ORANG TUA, HENDAKNYA MEREKA MENJALANI HIDUP YANG SESUAI DENGAN USIA, SEMANGAT DAN PERKEMBANGAN PARA REMAJA, SERTA SELARAS DENGAN KAIDAH-KAIDAH PSIKOLOGI YANG SEHAT, TANPA MENGABAIKAN PENGALAMAN YANG SEPADAN MENGENAI HAL-IKHWAL MANUSIAWI DAN HUBUNGAN DENGAN KELUARGANYA SENDIRI.” (OT 3).
 CF. GAMBARAN KUANTITATIF RATIO FORMATOR-FORMANDI DI SEMINARI-SEMINARI MENENGAH SE-INDONESIA.


 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI / KERJA KELOMPOK: BERDASARKAN PENGALAMAN DAN SITUASI PEMBINAAN DI SEMINARI MENENGAH MASING-MASING, APA YANG PERLU DIUPAYAKAN PIHAK SEMINARI AGAR LEBIH SANGGUP MENANGGAPI PANGGILANNYA DALAM TUGAS MENDIDIK CALON IMAM?


1. IDENTITAS DAN MISI IMAM


Formasi Imamat menghadapkan kita pada pertanyaan dan refleksi tentang Identitas dan Misi Imamat di dalam Gereja. Tentu kita harus menghantar para calon Imam untuk sampai pada Imamat Sejati yang dihayati secara benar (Dimensi Ideal dari Formasi Imamat).
Tetapi kita juga harus sadar, Formasi kea rah Imamat itu selalu berkaitan dengan kemanusiaan calon (Dimensi Riil dari Formasi Imamat), di mana kemanusiaan setiap calon imam turut menjadi bagian integral dari dan turut pula menentukan Identitasnya sebagai Imam.
     Siapakah Imam? Dalam beberapa decade terakhir, berkembanglah model-model penghayatan imamat yang menunjukkan adanya Krisis Identitas Imamat dalam Gereja dan dalam dunia:


• KRISIS IDENTITAS IMAMAT DALAM GEREJA:
    AKTIVITAS POLITIK?
     PENGKOTBAH ULUNG? 
    DELEGATUS SOSIAL?
   PEKERJA SOSIAL (LSM)
   IMAM TANPA IKATAN DENGAN GEREJA
H.U. VON BALTHASAR:  TIDAK SULIT MENDAPATI IMAM2 YANG BERUPAYA MENARIK ORANG, YANG GETOL BICARA TENTANG TUHAN DENGAN BAHASA / MENTALITAS DUNIAWI, DENGAN MOTIV AGAR LEBIH DITERIMA KARENA MENYENANGKAN/MEMUKAU MANUSIA, RELA MENGABAIKAN KASIH TUHAN TERHADAP DIRINYA DAN SESAMA DALAM PENGHAYATAN IMAMAT KARENA TAKUT DITOLAK. INILAH ORANG-ORANG YANG KEHILANGAN MAKNA IMAMAT MEREKA KARENA TERSERAP DALAM KEMANUSIAAN ANONIM”. (H.U. von Balthasar, “Il sacerdote che io cerco,” dalam Ecclesia, 1, 1987, p. 12).


• IMAM SEJATI GEREJA:
 SAAT SEORG IMAM, GEMETAR DALAM ROH KARENA KETIDAKLAYAKANNYA DI HADAPAN MARTABAT IMAMAT YANG SEKIAN LUHUR, SAAT IA MELETAKKAN TANGANNYA YANG TERURAP DI ATAS KEPALA KITA; SAAT DIA MEMBUNGKUK UNTUK MENYEMBAH TUBUH-DATAH TUHAN YANG DIA PERSEMBAHKAN, MEMBUAT KAGUM SAAT DIA MEWARTAKAN SABDA KEHIDUPAN; PENDOSA YANG MENGAMPUNI DOSA BANYAK ORANG, KITA MENGANGKAT HATI, BERLUTUT  DI BAWAH KAKINYA… KITA SADAR, KITA BERADA DI BAWAH KAKI SEORANG MANUSIA YANG MENGHADIRKAN ALLAH UNTUK KITA (A. Manzini, “Osservazioni sulla morale cattolica, XVIII, in Tutte le Opere, Vol. II, a cura di Mario Martelli, Firenze, 1973, p. 1430).
 IMAMAT: MISTERI AGUNG YANG TERKAIT DENGAN KERAPUHAN, KEFANAAN DAN KETERBATASAN DUNIAWI, SEKALIGUS KEMULIAAN REALITAS ILAHI YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA. SEPERTI DIUNGKAPKAN CARDINAL LEO TRESÉ: “MANUSIA SELALU MENDAMBAKAN ALLAH YANG DAPAT MEREKA JUMPAI DI SETIAP JALAN HIDUP MEREKA, DALAM DIRI PARA IMAM.”
• MENDALAMI MISTERI IMAMAT
 Ibr 5, 1: “Setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.”
 3 hal mendasar:
 DIPANGGIL DAN DIPILIH TUHAN: DI balik semua data / identitas diri, selalu ditemukan kesadaran personal tentang PANGGILAN. Perlu kita ingat, calon-calon itu sesungguhnya dipanggil dan diutus, ditaruh di tangan kita, dipercayakan kepada kita untuk dibina: kemanusiaannya yang otentik dibentuk, dibersihkan, disempurnakan, sehingga dari sana Imamat yang awalnya tersamar, suatu saat dapat terlihat jelas. Banyak Formandi datang ke Seminari secara sadar dan bebas, atas inisiatif pribadi yang sungguh nyata, tapi di balik semua itu ada MISTERI PANGGILAN ALLAH, ADA INISIATIF ILAHI. “Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang terjadi dengan Harun” (Ibr 5, 4). Ini penting supaya dalam proses formasi, kita dimungkinkan untuk mendalami dan memurnikan motivasi panggilan calon, dan membimbingnya secara benar agar sungguh sampai pada Rahmat Panggilan Allah, dan tidak berhenti pada kemauan atau inisiatifnya sendiri. “Bukan kamu yang telah memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan supaya kamu pergi dan menghasilkan buah… (Yoh 15, 16). Dan kita bisa bayangkan, Seminaris, dalam perjuangannya untuk masuk Seminari mungkin merasakan sapaan yang cukup meyakinkan: “Datanglah kemari dan ikutilah Aku” (Mrk 10, 21). Kita bisa merefleksikan kembali pengalaman panggilan para Bapa Bangsa, Para Raja, Para Hakim, Para Nabi, para Rasul, para Kudus, para Paus, Uskup, Imam, Diakon, dll. Panggilan dan Pilihan Allah bukanlah sesuatu yang semata-mata fungsional, structural-formal dan beku, tetapi suatu pernyataan cinta. Yesus memilih orang-orang yang dikehendaki-NYA (Mrk 3, 13), mencintai mereka dan menjadikan mereka sahabat-NYA (Yoh 15, 9.15). Panggilan Allah yang penuh cinta perlu dijawab atas dasar cinta pula. Panggilan yang terjadi hanya secara formal, obligatorium, professional tanpa cinta, sesungguhnya adalah panggilan yang steril, kering, gersang, layu. Bagaimana Formator mendampingi Formandi dengan cara menjadikannya sadar akan panggilan Allah dengan segenap jiwa-raga, mematangkan panggilan itu dengan peri hidup yang sepadan, dan menjadikannya jiwa dan orientasi dasar seluruh hidupnya dan membantunya memupuk cintakasih yang ikhlas bagi Tuhan dan sesama?  


 DITETAPKAN BAGI KEBAIKAN MANUSIA, KHUSUSNYA DALAM HUBUNGAN MEREKA DENGAN ALLAH, YAITU UNTUK MEMPERSEMBAHKAN PERSEMBAHAN DAN KORBAN KARENA DOSA.
Imam dipanggil, dipilih, dan ditetapkan Allah. Pilihan Allah selalu untuk satu tugas/perutusan spesifik. Orang pilihan dimintakan kerelaannya untuk taat, setia, kolaboratif karena tunduk pada rencana Allah. Imam ditentukan dan ditempatkan pada posisi pelayanan manusia, yaitu pelayanan yang secara specific terkait dengan hubungan manusia dengan Allah, dan direalisasikan dalam pelayanan Sakramental.


Apa maknanya? Jawabannya:
1) Kristus, Imam Agung Abadi, Model Imam Kristus. Kristus itu Manusia Sejati yang saleh, Anak, belajar menjadi taat dari penderitaan, menjadi sempurna, menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang, dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah (Cf. Ibr 5, 7-10). Meterai Imamat adalah Salib dan salib melahirkan orang-orang yang berkat perjanjian Allah, menerima keselamatan. “Ia adalah Pengantara dari suatu Perjanjian Baru, supaya mereka yang dipanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan” (Ibr 9, 15). Yesus Kristus adalah Satu-Satunya Imam Agung Perjanjian Baru.  Dan semua Imam Umat PB adalah partisipasi sacramental, perpanjangan dan pelanjutan dari satu-satunya Imamat, di dalamnya mereka berpartisipasi, karena itulah yang ditetapkan Kristus. “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk 22, 19), yang disertai tugas untuk mengampuni dosa (Luk 5, 21-22) dan tugas penggembalaan yang dipercayakan kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh 21, 17).  Imamat para Imam memiliki satu-satunya Model Definitif: IMAMAT YESUS KRISTUS! dengan segala kemuliaan dan konsekuensinya.
2) Imamat Ministerial memiliki Karakter Sakramental: (Cf. 1 Ptr 2, 9; Rom 12, 4; LG 10; PO 2) yang bicara tentang hubungan dan kekhasan Imamat Umum Umat Beriman dan Imamat Ministerial para Imam. Imamat itu bukan sesuatu yang melekat pada kehendak dan kemauan pribadi si imam, tetapi sesuatu yang dianugerahkan, ditanamkan dalam inti hakiki dirinya, menjadi suatu kekuatan hidup yang menjiwai dan menggerakkan sang Imam dari kedalaman inti pribadinya, menjadikan imamat itu tidak terpisahkan dari adanya si imam itu. (Mungkin secara pribadi kita bisa refleksikan kembali kata “INKARDINASI”) dalam Imamat. Karena di-KONFIGURASIKAN DALAM IMAMAT YESUS KRISTUS, Imam lalu menjadi “Orang Kepilihan Allah”, “Manusia Allah”, dalam arti “orang dari dan untuk  Allah,” “Alter Christus.” Paus Paulus VI menegaskan kebenaran ini sbb: “Berkat Sakramen Tahbisan, Anda berpartisipasi dalam Imamat Yesus Kristus, dalam arti Anda tidak sekedar representan Kristus, tidak sekedar pelaksana pelayanan Kristus, tetapi Anda HIDUP SEPERTI KRISTUS; KRISTUS HIDUP DI DALAM KAMU.” (Diskursus bagi para Imam Baru, Manila, 28 Nov. 1970). Jauh sebelumnya, St. Yohanes Krisostomus menasehatkan umat-nya sbb: “Jika anda tidak memiliki iman akan Imamat, sia-sialah seluruh pengharapanmu. Jika Allah tidak berkarya melalui dia, anda tidak dibaptis, anda tidak berpartisipasi dalam sakramen-sakramen, tidak pernah dapat berkat. Dapat dikatakan, tanpa iman akan imamat, anda bukanlah orang Kristen” (Hom. in 2 Tim, 2, 2-4). Benar sekali: Sesudah Allah (Kristus), Imamlah segala-galanya!
3) Tres Munera Christi: Nabi (Munus Docendi), Imam (Munus Sacrificandi), Raja (Munus Gubernandi / Munus Sacrificandi); CF.


 DIPANGGIL DAN DIPILIH DARI ANTARA MANUSIA, YAITU SEORANG DI ANTARA UMAT MANUSIA, DENGAN KEBESANRAN, KEAGUNGAN DAN KEMULIAAN MANUSIAWI (CF. MZM 8) SEKALIGUS DENGAN KEHINAAN, KERAPUHAN, KETERBATASAN SETIAP ORANG (CF. TRAGEDI KEJATUHAN MANUSIA)
“Kita ada di bawah kaki seorang manusia yang mewakili Yesus Kristus” (A. Manzoni). Dkl: “Kita ada di bawah kaki sang Wakil Yesus Kristus, yang adalah seorang manusia.” Menurut Surat Ibrani, Imam Agung dipilih dari antara umat manusia. Imam itu manusia biasa, penuh kemuliaan tapi juga kerapuhan, keterbatasan, kelemahan. Imam Agung itu sendiri penuh dengan kelemahan (Ibr 5, 2).
Manusia dalam pengertian apa?
1) Manusia sebagai Ada-Kompleks (Multidimensionalitas Manusia), yang terkomposisi dari berbagai unsure yang tidak hanya berbeda, tetapi juga seringkali saling berlawanan. Enigma autentik manusia: JIWA-YANG-MEMBADAN, VV: BADAN-YANG-MENJIWA.
2) DIMENSI SPIRITUAL (JIWA): Ens rationale-volunte, ens sociale, ens yang mampu berelasi, berkomunikasi, berdialog, bahkan dengan “TU-INFINITUM” (TUHAN).
3) DIMENSI CORPREAL (BADAN): Tubuh dan Ekspresi jasmaniah manusia, indra-indra memungkinkan kita untuk mengembangkan pemahaman tentang Makna Tubuh Manusia, Sensibilitas calon imam.
 FORMASI MANUSIA INTEGRAL: Dalam Proses Formasi, kita bisa dibantu untuk bicara tentang kontradiksi yang sering terjadi dalam penghayatan hidup konkrit karena sebagai manusia kita adalah ens-ens di tapal batas kemuliaan dan kehinaan, ens dengan kewargaan rangkap: dunia materi, dunia binatang, dunia malaekat; kita bisa berefleksi tentang Imago Dei, Imago Dei Caduta, Imago Dei Restorata in Cristo.
Sebagai Formator, kita diutus untuk tugas formasi bagi orang-orang yang dipanggil Tuhan, untuk berpartisipasi dalam tugas pelayanan Kristus bagi keselamatan seluruh umat manusia. Para Pembina perlu sadar akan hal ini, dan mengambil dengan penuh rasa tanggungjawab tugas Formasi yang ditaruh Gereja di tangan kita, sehingga bersama para calon, kita berziarah bersama menuju “kedewasaan penuh di dalam Kristus” (Ef 4, 13). Caranya: dengan program pembinaan integral, orientasi dan sikap hidup kita, dengan pemahaman dan rasa tanggungjawab kita, sehingga para calon mampu melihat jalan yang benar menuju Imamat Kristus, atasnya mereka bisa menjawab secara tepat. Kita perlu katakana secara tegas dan meyakinkan: “Hai anak-anakku, karena kamu, aku berani ada lagi di Seminari ini, dengan kerelaan untuk menderita sakit bersalin lagi, hanya supaya akhirnya kamu menjadi Imam Kristus, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” (cf. Gal 4, 19).


2. SEMINARI DAN KOMITMEN TERHADAP PRINSIP-PRINSIP FUNDAMENTAL FORMASI IMAMAT
 
• AMANAT AKHIR PARA BAPA SYNODE: “HIDUP DI SEMINARI, GELANGGANG UNTUK MENDALAMI INJIL, BERARTI MENGIKUTI KRISTUS SEPERTI PARA RASUL. ANDA (FORMATOR DAN FORMANDI) DIPANDU OLEH KRISTUS MEMASUKI PENGABDIAN KEPADA ALLAH, BAPA SEMUA ORANG, DI BAWAH BIMBINGAN ROH KUDUS. DENGAN DEMIKIAN ANDA MAKIN MENYERUPAI KRISTUS, GEMBALA YANG BAIK, UNTUK SECARA LEBIH BAIK MENGABDI GEREJA DAN DUNIA SEBAGAI IMAM. SAMBIL MENYIAPKAN DIRI BAGI IMAMAT, KITA PERLU BELAJAR, BAGAIMANA DENGAN TULUS HATI MENANGGAPI PERTANYAAN KRISTUS: “BENARKAH ENGKAU MENCINTAI AKU?” (YOH 21, 15). BAGI CALON IMAM JAWABANNYA HANYA BOLEH BERARTI: PENYERAHAN DIRI SEUTUHNYA.”


• BEBERAPA PRINSIP FUNDAMENTAL FORMASI IMAMAT


 PANGGILAN: RAHMAT ALLAH DAN JAWABAN BEBAS MANUSIA (CF. SELURUH BAB IV PDV, 34-41).
 PELAKU UTAMA DALAM PROSES FORMASI IMAMAT
 ROH KUDUS: Cf. Lagu “Veni Sancte Spiritus” (“Veni Creator Spiritus”); Kita refleksikan kembali Misteri Pembaptisan Tuhan, di mana Roh Kudus dicurahkan ke atas Diri-Nya sehingga mulai saat itu seluruh hidup dan karya-NYA di bawah bimbingan Roh. Kita juga reflekslikan saat kita dibaptis, diberi Sakramen Krisma, ditahbiskan, di mana kita dicurahi Roh Kudus dan jadilah kita Manusia-Baru. Itulah Profesi kita.
Calon Imam harus makin menyadari bahwa Pelaksana Pembinaannya yang paling luhur adalah Roh Kudus. Dengan menganugerahkan hati yang baru Roh Kudus menjadikannya serupa dengan Kristus, Sang Imam Agung, Gembala Yang Baik. Maka calon imam perlu menyatakan kerelaannya dibimbing oleh Roh Kudus dalam panggilannya. Dia juga perlu dididik untuk menerima segala kekuatan manusiawi yang bersifat “perantara” yang akan Nampak dalam bentuk buah-buah Roh (Cf. PDV 69).
 SEMINARIS: PDV 69: Calon Imam sendiri menjadi pelaksana yang perlu dan tidak tergantikan bagi pembinaannya sendiri. Seluruh Pembinaan pada dasarnya adalah Pembinaan Diri. Tidak ada seorangpun dapat menggantikan manusia dalam kebebasan bertanggungjawab yang ada padanya sebagai pribadi perorangan.
Calon perlu disadarkan, dialah yang dipanggil Tuhan dan dialah yang harus menjawab secara bebas, dalam keyakinan iman, keteguhan harapan dan kedalaman cinta. Dialah yang akan menjawab “Ya, saya hadir” untuk ditahbiskan, dan dialah yang bertanggungjawab atas penghayatan imamatnya, dan dialah yang akan mendapatkan ganjaran atas pelaksanaan hidupnya sebagai imam.
 FORMATOR: (Cf. Gal 4, 19): St, Paulus merasakan tanggungjawab pribadi untuk kedewasaan orang Kristen dalam Gereja. Benar, dalam Yesus Kristus Allah itu sungguh EMMANUEL. Tapi benar juga, Tuhan terus saja memanggil dan mengutus orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk mendahului-Nya. Maka para Formator di Seminari haruslah menjadi Collaboratores Allah dalam seluruh proses Formasi Imamat. 
 KOLABORATOR YANG LAIN: USKUP, PASTOR PAROKI, KELUARGA CALON IMAM, KOMUNITAS EKLESIAL


 FORMASI SEBAGAI AUTOFORMASI
 SELURUH PROSES FORMASI ADALAH PROSES AUTOFORMASI: CALON ADALAH ORANG PERTAMA, PENANGGUNGJAWAB UTAMA ATAS PANGGILANNYA. DIALAH YANG PERLU MENGAPLIKASIKAN SEGALA TUNTUTAN TERKAIT PANGGILAN, TERGERAK OLEH KEYAKINAN PRIBADI YANG MENDALAM YANG TERUNGKAP DALAM SIKAP DAN PERILAKU HIDUP YANG JUJUR DAN OTENTIK.
 AUTOFORMASI MENGANDUNG BEBERAPA HAL MENDASAR:
1) KEYAKINAN SENDIRI (AUTOCONVINCE): Calon sendiri harus membina dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa pembinaan itu penting bagi perkembangan panggilannya. Dia harus menginginkan menjadi Man of God, orang yang berupaya mengejar kekudusan hidup, berkeutamaan, mengatasi egoism dan segala kelemahan atau cacad-cela dirinya, orang yang ingin belajar karena mau berkembang secara intelektual, spiritual, personal, pastoral, dst. Autoconvince Calon ini seringkali terungkap dalam Optio Fundamentalisnya untuk Kristus (Allah) dan Imamat, dan dalam Stabilitas Vocational atau Kemantapan Panggilannya yang akan menjadi modal besar juga dalam penghayatan imamat sepanjang hidup.
2) AUTOCONSCIENCE: SADAR DIRI, KENAL DIRINYA SECARA BAIK DAN MENDALAM: YA KEPADA KEKUATAN DAN KELEMAHAN DIRI, SEFL-ESTEEM, SELF-ACCEPTANCE; Berorientasi untuk melakukan Kebaikan, Kebenaran, Keadilan, dst, dalam rangka memerangi segala kelamahan dan cacad-cela dalam diri dan kejahatan dalam dunia.
3) AUTOFORMATION:  responsabilitas, sinceritas, entusiasme hidup atas panggilan suci.


 FORMASI SEBAGAI TRANSFORMASI :
 PANGGILAN ALLAH: UNTUK MENJADI IMAM, ADA DAN HIDUP SEBAGAI IMAM, MENGHAYATI IMAMAT SEBAGAI PILIHAN UTAMA DAN TERPENTING DALAM HIDUP CALON. INI BERARTI ORANG ITU RELA MENGIDENTIFIKASI DIRINYA DENGAN KRISTUS. “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup di dalam aku” (Gal 2, 20). Kemampuan mentransformasikan diri dengan Kristus inilah sumber kebahagiaan dan kegembiraan sejati.
 FORMASI SEBAGAI TRANSFORMASI BERARTI: MEMBANTU CALON IMAM SAMPAI IA MAMPU MEMILIKI “FORMA” IMAMAT. INI PROSES PANJANG, PENUH MISTERI, SERING BERLIKU-LIKU. PROSES INILAH YANG DINAMAKAN “TRANSFORMASI.”
 FORMASI DI SEMINARI MEMANG HARUS MEN-TRANSFORMASIKAN PARA SEMINARIS SEKIAN SEHINGGA AKHIRNYA KRISTUS MENDAPATKAN FORMA DALAM DIRI MEREKA (RUPA/FIRGURA KRISTUS TERUKIR DALAM DIRI MEREKA, Cf. Gal 4, 19). TRANSFORMASI MENYANGKUT SELURUH KEPRIBADIAN CALON: POLA PIKIR, PERASAAN, TUTUR KATA, TUTUR HIDUP, CINTA, REAKSI-REAKSI, CARA BERELASI DAN BERKOMUNIKASI DENGAN YANG LAIN… SELURUHNYA PERLU DIKONFIGURASIKAN SEKIAN SEHINGGA MENGEKSPRESIKAN SELURUH IDEAL GEREJA TENTANG IMAM KATOLIK.
 CARA MELAKSANAKAN FORMASI SEBAGAI TRANSFORMASI:
1) MEMBANTU AGAR CALON MENGETAHUI: FORMASI HARUSLAH MERUPAKAN ILUMINASI INTELEKTUAL, PENCERAHAN RATIONAL CALON DENGAN PENGETAHUAN YANG MENDALAM TENTANG BERBAGAI HAL FUNDAMENTAL SEPERTI TENTANG KRISTUS, GEREJA, IMAMAT, MAKNA PANGGILAN, DIRI MEREKA DENGAN SEGALA TENDENSI NATURAL DAN KEKUATAN SPIRITUALNYA, DST. JANGAN PERNAH MEMBIARKAN CALON MENJADI IMAM TANPA PENGETAHUAN CUKUP!
2) MEMBANTU MENGAPRESIASI DAN MENGEVALUASI NILAI-NILAI UNTUK HIDUP SI CALON. ADA SEMINARIS YANG TIDAK LULUS UJIAN TETAPI KERJANYA BAGUS, TETAPI BILA DISURUH UNTUK MENJELASKAN MAKNA PEKERJAANNYA, IA TIDAK MAMPU MENJELASKAN, TERMASUK KALAU IA BERBUAT SALAH! ADA YANG SANGAT RAJIN MEMBANTU TEMAN UNTUK KERJA INI-ITU, BANTU PEMBINA UNTUK BANYAK URUSAN, TAPI DIA TIDAK PERNAH BELAJAR, PADAHAL DIA TERKENAL KARENA LEMAH. INI CALON DENGAN MOTIVASI YANG PERLU DIPERTANYAKAN.
3) MEMBANTU SEMINARIS MENGHIDUPI APA YANG DIA KETAHUI DAN HAYATI SEBAGAI NILAI TERTINGGI DALAM KEHIDUPANNYA, MENJADIKAN PENGETAHUAN DAN NILAINYA HABITUS KEHIDUPAN. MISALNYA, BAGAIMANA SIKAP CALON DI HADAPAN KESULITAN, PENDERITAAN, TANTANGAN, BAHAYA, DLL.
4) DALAM COLLOQUIUM, DISCERNMENT, REFLEKSI PRIBADI, REKOLEKSI, RETRET DAN LATIHAN ROHANI, PROGRAM PEMBINAAN, DLL HARUSLAH DEMI OBJEKTIF INI: TRANSFORMASI VITAL SEHINGGA AKHIRNYA IMAMAT YESUS KRISTUS TERUNGKAP JELAS DALAM SELURUH HIDUPNYA SAAT DIA MENJADI IMAM.


 FORMASI HIDUP BERKOMUNITAS
BAGAIMANA CARANYA MENJADI SEMINARI SEBAGAI “SENTRUM PENDIDIKAN CALON IMAM?” BAGAIMANA MENJADIKAN SEMINARI SEBAGAI KOMUNITAS EKLESIAL YANG MENGHIDUPI KESATUAN IDEAL PENDIDIKAN IMAM YANG PENTING UNTUK PELAYANAN GEREJA DAN DUNIA?
DASAR DARI IMAMAT ADALAH GEREJA, PERSEKUTUAN UMAT BERIMAN; JADI COMMUNIO, YANG LALU JADI KOMUNITAS. ARTINYA MENGYAYATI HIDUP BERSAMA KARENA SUATU IDEAL, TUJUAN, CITA-CITA, SEMANGAT, YANG PERLU DICAPAI DALAM SUASANA KEBERSAMAAN.
TETAPI KOMUNITAS HANYA BISA DIHAYATI DENGAN BAIK DAN BENAR KALAU DI SANA ADA PRIBADI-PRIBADI YANG RELA SALING BERBAGI, SALING MEMBERI DAN MENERIMA UNTUK SALING MENYEMPURNAKAN. MAKA KOMUNITAS BUKANLAH MUSUH TERHADAP INDIVIDU DAN SEBALIKNYA: INDIVIDU PERLU BERKEMBANG DALAM KOMUNITAS DAN KOMUNITAS DIKEMBANGKAN OLEH PRIBADI-PRIBADI YANG SALING TERBUKA UNTUK MEMBERI DAN MENERIMA. CALON IMAM PERLU BELAJAR MENGEMBANGKAN RASA TANGGUNGJAWABNYA ATAS JEMAAT DAN BELAJAR MENJADI “INSAN PERSEKUTUAN” DALAM KEHIDUPAN KOMUNITAS DI SEMINARI (PDV 43).


 FORMASI INTEGRAL BAGI IMAMAT


 PEMBINAAN MANUSIAWI: DASAR SEGALA PEMBINAAN IMAM (PDV 43-44): PERLU KONTEMPLASI TENTANG KESEMPURNAAN MANUSIAWI YANG MEMANCAR DALAM DIRI YESUS KRISTUS, PUTERA ALLAH YANG MENJELMA DAN BELAJAR MENERIMA, MENGHARGAI DAN MENGEMBANGKAN KEMANUSIAANNYA SEBAGAI IMAGO DEI. PERLU KEMBANGKAN SIFAT-SIFAT MANUSIAWI, MISALNYA RENDAH HATI, CINTA DAMAI, JUJUR, MUDAH DIDEKATI, RAMAH-TAMAH, ARIF-BIJAKSANA, BERJIWA BESAR, RELA MELAYANI, BERSAHABAT, DST. “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp 4, 8).
FORMASI MANUSIAWI DI SEMINARI MENENGAH: DARI MANUSIA BERKUALIFIKASI KRISTEN MENUJU IMAM MASA DEPAN.
OBEJEKTIF SENTRAL PEMBINAAN MANUSIAWI DI SEMINARI IALAH MENCAPAI KEMATANGAN MANUSIAWI DENGAN 3 TAHAPNYA.
1) PERKEMBANGAN INTEGRAL, HARMONIS DAN TERARAH DARI SEMUA DIMENSI KEPRIBADIAN, YANG TERKAIT DENGAN IDEAL CALON: INGIN JADI APA?
2) PENDIDIKAN DIMENSI MORAL CALON IMAM: PENDIDIKAN HATI NURANI DAN KESADARAN MORAL MENURUT PRINSIP-PRINSIP ETIKA DARI RATIO NORMAL YANG DIDASARKAN ATAS INJIL. JUGA KEUTAMAAN MORAL.
3) KEUTAMAAN MANUSIAWI DAN SOSIAL YANG EFEKTIF UNTUK HIDUP DAN KARYA SEBAGAI IMAM.


 PEMBINAAN ROHANI: DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH – MENCARI KRISTUS (PDV 45-50). MANUSIA HARUS LAHIR KEMBALI DARI AIR DAN ROH KUDUS, ARTINYA DISEMPURNAKAN OLEH KARYA ALLAH, SEBAB TANPA ALLAH MANUSIA MERASAKAN KEGELISAHAN, KELAPARAN DAN KEHAUSAN JIWA YANG TAK PERNAH TERPUASKAN; PEMBINAAN ROHANI: HUBUNGAN PERSEKUTUAN DENGAN ALLAH, SUMBER KEHIDUPAN.
BEBERAPA NILAI FORMASI ROHANI DI SEMINARI:
1) HIDUP BERSATU MESRA DENGAN YESUS KRISTUS, YANG BERAKAR DALAM PEMBAPTISAN DAN DIPUPUK DENGAN EKARISTI, AGAR TERJADI PEMABAHARUAN HIDUP DARI HARI KE HARI. PERSATUAN CALON IMAM DENGAN YESUS HARUSLAH TERARAH KEPADA PERSAHABATAN SEJATI DENGAN YESUS. “HENDAKALAH MEREKA DIAJAK MENCARI KRISTUS”  DALAM DIRI SESAMA (PDV 46. 49).
2) MEMBACA SABDA ALLAH DALAM SUASANA DOA DAN MEDITASI (LECTIO DIVINA: LECTIO, MEDITATIO, CONTEMPLATIO, ORATIO, ACTIO).
3) LATIHAN DOA
4) PERAYAAN EKARISTI DAN SAKRAMEN GEREJA
5) BELAJAR MENGENAL, MENGHARGAI, MENCINTAI DAN MENGHAYATI SELIBAT MENURUT HAKEKATNYA YANG SEJATI DAN MENURUT TUJUANNYA YANG NYATA, YAITU DEMI KERAJAAN ALLAH.
 PEMBINAAN INTELEKTUAL: MEMAHAMI IMAN.
AKAL BUDI: PARTISIPASI DALAM CAHAYA BUDI ILAHI. DENGAN NALARNYA MANUSIA BERUSAHA MERAIH KEBIJAKSANAAN YANG MEMBUKA JALAN KE ARAH PENGENALAN AKAN ALLAH BERPAUT PADANYA (PDV 50; GS 15).
PEMBINAAN INTELEKTUAL PENTING KARENA HAKEKAT PELAYANAN IMAMAT ITU SENDIRI: TANTANGAN EVANGELISASI BARU DAN PERTANGGUNGJAWABAN IMAN SECARA RASIONAL.
 PENDIDIKAN PASTORAL: BERLANDASKAN CINTA KASIH KRSITUS, SANG GEMBALA AGUNG GEREJA


 CINTA: MOTIV DASAR FORMASI IMAMAT: TANPA CINTA, KITA MANUSIA TIDAK SANGGUP HIDUP DAN BERKEMBANG SEBAGAI MANUSIA.


 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Aggiornamento" Lainnya