Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

ARTIKEL KACAMATA AWAM

Selasa, 23 Maret 2010 09:18:28 Oleh : admin

DICARI : SuperIMAM !
“in great power lies great responsibilities..”


Seringkali disebutkan umat menuntut imam yang handal, tangguh, sabar, penuh perhatian terhadap umat serta kontekstual.  Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang seringkali dituntut umat tetapi menurut umat hal tersebut tidak (belum) ada pada imam saat ini.  

Pertanyaan menggelitik akan muncul atas kalimat diatas : Memang ada imam yang sedemikian lengkapnya?  memangnya imam itu manusia super ?  Jika dikembalikan, seandainya ada imam yang seperti itu maka dapat ditanyakan : Apakah yang sudah diperbuat gereja dan segenap umatnya untuk membentuk dan mempertahankan kelanjutan imam yang diharapkan tersebut?
Karakter setiap orang sudah terbentuk sejak mereka lahir dan setiap imam pasti memiliki kepribadian masing-masing yang unik.  Jika demikian, apakah mustahil seseorang dapat menjadi imam yang “sempurna”?  Menurut saya seorang imam yang baik dapat disebut “super” sebagai imam jika ia setia terhadap panggilan imamatnya, baik dalam suka maupun duka di dalam hidup menggereja dengan segala resikonya.  Dan ini salah satunya diwujudkan dalam cara hidupnya sehari-hari yang menjaga kesucian dan tindakan yang bijaksana.  Jadi bukan berdasar pada karakter uniknya yang mungkin saja belum tentu cocok dengan seluruh umat.
Seorang rekan awam pernah mengkritik seorang pastor yang punya akun facebook serta Blackberry Messenger (BBM).  Menurut dia imam itu seharusnya identik dengan kesederhanaan, kesucian, dan sehari-hari bergelut dengan kitab suci.   Wow! Pandangan konvensional yang cukup menarik tentang gambaran imam dimata awam.  Disatu sisi umat mengharapkan imam yang kontekstual, di sisi lain umat juga mendambakan imam yang identik dengan ‘orang suci’.
Terlihat bahwa umat awam kurang memahami bahkan cenderung tidak peduli terhadap pendidikan yang sudah berjalan dan terlaksana di seminari.  Mereka seharusnya tahu bahwa pendidikan di Seminari pun sudah menggunakan teknologi berbasis computer.   Dan yang lebih salah persepsi lagi, pastor yang notabene jebolan seminari dianggap sudah 100% siap dalam segala kondisi.  Padahal pengalaman menggembala umat itu adalah suatu proses dan memerlukan ‘jam terbang’ yang cukup agar mampu menjadi penggembala umat yang handal.  Umat seharusnya turut andil dalam proses ini agar imam tidak merasa sendirian dalam menjalani panggilannya.
Di kesempatan lain, saat berdiskusi bidang IT dengan beberapa rekan pastor, saya mendapat gambaran tentang kebutuhan imam terhadap dunia maya.  Ada yang kebutuhannya sebatas email saja, ada yang  punya beberapa akun di facebook (satu akun saja tak cukup,karena  list friends-nya sudah penuh), ada juga yang memerlukan messenger sebagai media chatting.  Tapi ada juga yang merasa tak perlu sama sekali, cukup sms dan telepon saja.   Ada juga pastor yang baru mulai memanfaatkan email karena dituntut oleh umat parokinya yang rata-rata aktif di milis.  “Saya pernah dibilang pastor gaptek karena ketinggalan berita paroki..”  Demikian ucap rekan pastor tersebut sambil tersenyum.
Dari berbagai kebutuhan berbasis internet itu, ternyata para imam tadi memanfaatkan sentuhan teknologi tersebut untuk menjalin komunikasi dengan umatnya sekaligus  mengurus kegiatan pastoralnya.  Contohnya bagi imam yang dipindahtugaskan tetapi tetap ingin menyapa umat di tempat lamanya.   Disini dapat dilihat bahwa pemanfaatan teknologi tidak serta-merta membuat imam tersebut kehilangan arah hidup imamatnya.  Imam justru terbantu untuk menyapa jaringan umat yang lebih luas lagi.  Jangan lupa bahwa dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini umat pun sudah demikian tinggi mobilitasnya.  Untuk melakukan konsultasi dengan imam di gereja seringkali terkendala masalah waktu dan lokasi.  Jadi apakah salah memanfaatkan media jejaring semacam facebook?  Saya pikir sepanjang hal-hal itu dimanfaatkan secara positif pada konteks yang tepat, justru bisa menghasilkan penghematan dan efisiensi waktu.
Diluar masalah teknologi, imam sekali lagi juga dituntut keberadaan dan kesediaannya terhadap banyak acara baik acara sakramental ataupun non sakramental.  Hal ini kadang menimbulkan salah persepsi bagi sebagian orang.  Umat yang mengundang pastor ke pesta semacam gathering merasa pastornya sebagai gembala yang perhatian karena mau meluangkan waktunya untuk menyapa.  Di lain pihak, umat yang  melihat kadang salah memahami.  Sulitnya menjadi pastor, maksud hati ingin menjadi pastor yang luar biasa, malahan dianggap terbalik sebagai pastor yang biasa diluar..
Ada pendapat bahwa Homili mencerminkan Romo-nya.  Kalau homilinya bagus, kontekstual sesuai dengan tren berita terbaru yang beredar di masyarakat, tandanya romonya bagus.  Kalau homilinya tidak kontekstual? Apakah berarti Romo-nya kurang bagus ?  Menurut saya homili adalah suatu ulasan sabda yang arahnya dapat menggugah dan menyiram rohani kita.  Tak harus mesti berhubungan dengan berita terbaru.  Jika ingin berita terbaru, nonton tv saja.
Imam yang mampu memajukan kondisi di tempat dimana mereka ditempatkan menjadi kearah yang lebih baik buat saya adalah para “Super Imam”.  Seperti layaknya superhero yang tak kunjung menyerah dengan keadaan yang teramat sulit.
Dari sekelumit hal-hal diatas, dapat dilihat bahwa tak ada imam yang , yang ada hanya imam yang mau terus belajar agar tetap handal, tangguh serta kontekstual.  Seminari sudah membekali itu.    Tinggal bagaimana memperlengkapinya sepanjang hidup imamat dengan mengakui segenap kelemahan kita sebagai pribadi.  Nah, disinilah dituntut kerjasama dan dukungan umat sebagai bagian dari gereja Katholik agar imam sebagai dambaan kita semua tetap terjaga dan berlanjut.
- Karena imam juga manusia   -

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Opini" Lainnya