HANYA SEBUAH KESEDERHANAAN
Salam Damai Kristus,
Melalui surat pendek ini, perkenankan kami mengungkapkan suara tak berakhir dari lubuk hati yang terdalam, dengan sebuah untaian kata sederhana “terima kasih”. Dalam untaian kata yang pendek itu, tak ada hal yang istimewa atau sesuatu yang berharga yang mampu kami berikan sebagai suatu ungkapan rasa yang tersimpan mendalam di lubuk hati. Ya . . . hanya ucapan sederhana dan bukan apa-apa, tetapi bagi kami, kesederhanaan itu telah mewakili seluruh isi hati kami, khususnya para seminaris di Atambua yang merasa sangat terbantu dengan perhatian, doa, bantuan dana yang kami terima.
Sebagai calon imam, langkah demi langkah dalam perjalanan kami adalah tertuju pada suatu peristiwa besar...tahbisan imamat!. Namun tak ada satu pun dari kami yang mampu menerawang ke depan dengan pasti, kapan itu akan terwujud, atau bahkan kami tidak berani mereka-reka akankah itu terjadi. Kami hanya berani bersimpuh dan berserah pada kehendakNya. Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Menjadi imam atau kandidat-Nya adalah sebuah perjalanan penuh misteri. Di Belu, sebuah desa jauh dari Jakarta, benih panggilan itu begitu melimpah. Seminari-seminari dipenuhi seminaris yang datang dari berbagai pelosok daerah. Ketika kami menatap lereng-lereng dan pelosok Atambua, kami sering bergumam, dari rumah-rumah sangat sederhana yang nyaris reot itu kami di panggil. Meski ada satu atau dua dari keluarga yang berada, tetapi rata-rata kemampuan orangtua kami pas-pasan untuk tidak menyebut miskin.
Dunia memberi aba-aba, ilmu itu mahal! Cita-cita perlu pengorbanan yang besar untuk memperolehnya. Maka mengikuti gema panggilanpun perlu pengorbanan.Tantangan dunia modern menempatkan para orang tua bertanggung jawab dalam posisi yang kian sulit untuk mengantar putera-puteranya mengais ilmu, meraba masa depan. Begitu banyak seminaris yang terlambat membayar uang sekolah, uang asrama, belum lagi kebutuhan-kebutuhan dasar lain yang tak terjangkau.
Dengan demikian, kami sangat bergembira atas bantuan dari GOTAUS, karena bantuan tersebut telah menjawabi keresahan hati kami menyangkut dana. Kami merasa Allah memperhatikan kami. Ternyata kami tidak berjalan sendirian menapaki liku-liku pengembaraan hidup ini. Allah senantiasa berserta kami dan GOTAUS adalah wujud kasih Allah yang nyata dalam diri kami. Di tengah dunia yang semakin edan, yang katanya krisis moral, iman, ternyata Allah masih menyisihkan manusia-manusia yang baik demi menolong sesamanya, dan sesamanya itu adalah kami.
Bantuan itu bagi kami adalah sebuah dukungan yang besar bagi kami untuk meraih cita-cita, menjawabi panggilan Tuhan. Kami merasa bersemangat untuk senantiasa berjuang mempertahankan eksistensi kami sebagai kandidat imam karena kami merasa bahwa walaupun dunia mempertanyakan kehidupan ini sebagai sebuah kehidupan “kontra natura”, tetapi toh banyak yang mendukungnya. Berarti ini adalah mulia, dan tidak semua orang mampu menghadapinya. GOTAUS telah memotivasi kami untuk senantiasa berjuang dan GOTAUS juga telah membuka mata kami akan kasih Allah yang hidup dan bukan sebuah teori belaka. Allah adalah kasih, yang mengasihi, maka kami dikasihi-Nya.
Kami hanya mampu berterima kasih, dan doa kami menyertai anda semua yang tergabung dalam GOTAUS, semoga kasih Allah senantiasa menaungi anda sekalian. Menikmati hari indah yang sudah disediakan bagi anda sekalian.
Demikian surat ini kami buat. Atas perhatiannya, kami haturkan limpah terima kasih.
Salam dan hormat,
Atas nama teman-teman seminari.
Alsgarius Bifel
Seminari Maria Imaculata Lalian, Atambua
Visitors :153752 Org
Hits : 397997 hits
Month : 1747 Users

