Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

Siapa Yang Membangun "Gereja"’, TUHAN atau setan??

Minggu, 2 November 2008 00:55:16 Oleh : admin

Ketika saya menerima Email di mailing lists Pro Ecclesia et Patria, tulisan dengan judul sebagaimana tersebut di atas, hati saya bergolak, spontan tersinggung, marah, dan bermaksud melacak penulisnya. Ternyata penulisnya adalah budayawan terkenal Arief Budiman, mantan guru besar di Universitas Satyawacana Salatiga, yang sekarang berkarya di Australia. Tulisan itu bahkan beberapa tahun lalu di muat di harian Kompas. Lebih terkejut lagi ketika memahami pesannya, .... ternyata bukan tidak mungkin yang membangun ‘gereja’ itu Setan!!  Yang dipermasalahkan dalam tulisan itu adalah ketika umat Kristen membangun phisik ‘gereja’ dengan penuh warna jor-joran, persaingan kepentingan, bahkan dilengkapi dengan mark up yang sangat halus. Namanya bukan lagi korupsi berdasi tetapi serigala bersinggasana ‘gereja’.

Memang, arogansi yang dikupas dalam surat tersebut adalah tentang rebutan jemaat antar denominasi, gede-gedean bangunan yang teatrikal, dan menjalar kepada hebat-hebatan kotbah. Namun bukankah diantara kita juga masih sangat jelas terlihat nuansa tersebut? Sejawat saya baru saja bersaksi dengan sangat bangga, bahwa ia baru saja tiba dari Roma membawa seluruh belanjaan untuk ‘gereja’ yang ia dan kawan-kawan bangun. Seluruh benda-benda suci ‘gereja’ di wilayahnya semua asli buatan Italia. Hebat bukan! Dalam keadaan yang terakhir itu, percayakah anda bahwa Tuhan sendiri yang membangun ‘gereja’ super megah itu di tengah-tengah perkampungan kumuh dan gubug-gubug kemiskinan?

***

Ketika menuliskan kilas balik Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari (GOTAUS) yang pada saat ini sudah menginjak usianya yag ke lima, ada keinginan yang sangat kuat untuk menuliskan refleksi di atas. Sejak GOTAUS lahir, apa yang berkembang dalam pemikiran rekan-rekan pemerhati seminari adalah semacam kesadaran bahwa gereja sejati tumbuh dalam hati dan perbuatan kita, yang terefleksi terutama pada manusia-manusianya, bukan pada bangunan-bangunan phisiknya. Itulah yang awalnya menggerakkan beberapa individu secara sukarela ikut memikirkan pemecahan permasalahan ketika sebuah Seminari Menengah menghadapi kerusakan fasilitas pendidikan.

Sekitar awal tahun 1996, Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, mengirim surat kepada beberapa pribadi di Jakarta, memberitahukan bahwa atap bagian tengah bangunan Seminari Mertoyudan mau roboh. Keuskupan Agung Semarang memberi signal agar Rektor mencari pemecahan sendiri, mengingat beban keuskupan sudah kelewat berat. Tentu ini mengejutkan. Rektor yang sehari-hari sudah bergelut dengan segala macam urusan Seminari, mulai dari urusan asrama, kurikulum, sampai pada prasarana yang kian tua, mesti menjala dana ke mana? Kepada orang tua murid sudah tidak mungkin. Untuk memikul biaya pendidikan minimum saja, lebih dari separuh orangtua murid tidak mampu memenuhinya.

Sebuah tim kecil dari Jakarta, dalam perjalanan ke Yogya dalam rangka dinas mampir berkunjung ke Seminari Mertoyudan. Di pandu Rektor, tim kecil ini menyusuri lorong-lorong, melihat bagaimana aktivitas para seminaris, dan akhirnya singgah di kapel. Suatu gambaran kesimpulan melekat, bahwa seluruh prasarana dan sarana, sudah “save our soul alias SOS”.

Sesampainya di Jakarta, tim kecil ini mengontak rekan-rekan seiman, dan ternyata gayung bersambut. Dapat dicatat bahwa waktu itu situasi perekonomian belum krisis, dan ekonomi Indonesia masih sangat gagah, meskipun mungkin keropos di dalamnya. Alhasil, melalui gotong royong banyak pihak beberapa orang dalam organisasi tanpa bentuk itu dapat ikut memecahkan permasalahan termaksud. Namun lebih dari itu, peristiwa itu mulai menyibak kehidupan seminari menengah beserta permasalahannya yang lebih dalam. Kalau Seminari Menengah Mertoyudan, yang menyandang nama besar pun kondisinya begitu memprihatinkan, bagaimana nasib seminari menengah yang lain, bagaimana mereka yang di luar Jawa? Begitu kira-kira pertanyaan dari kelompok peduliwan yang jumlahnya mulai bertambah.

Untuk dapat mengungkap permasalahan seminari menengah yang lebih menyeluruh, ternyata harus bersabar dan tidak mudah. Ketika itu, Komisi Seminari KWI pun ternyata tidak punya data atau gambaran tentang seminari secara menyeluruh, apalagi permasalahannya. Bahkan, yang lebih menyedihkan, ternyata komisi seminari KWI pun ketika itu tidak mempunyai ruang kantor sendiri! Bagaimana mungkin permasalahan-permasalahan diatas dapat di deteksi dan dipecahkan? Namun, realitas itu justru memacu kelompok peduliwan untuk tetap bersemangat mengetuk hati rekan dan sahabat dari mulut ke mulut, menyampaikan berita keprihatinan ini.

Ketika badai tahun 1997 berlalu dan meninggalkan “luka” dimana-mana, kelompok peduliwan saling kontak dan bertemu, meski dalam wajah keprihatinan yang mendalam. Banyak dari para peduliwan dalam kondisi ketidakpastian yang sulit, kehilangan pekerjaan atau usahanya terancam tutup atau bahkan benar-benar bangkrut. Ditengah kegetiran yang mendalam itu tetap saja ada yang sangat membanggakan, ternyata sedikit tabungan yang pernah terkumpul sampai menjelang krisis ekonomi, tetap terjaga dan terpelihara dengan baik dan rapi. Dari tabungan inilah para pemerhati seminari ingin meneruskan perhatiannya.

Kalau ide awal para peduliwan adalah perhatian terhadap perbaikan sarana atau prasarana seminari menengah, ternyata di tengah krisis yang memporakperandakan sendi-sendi ekonomi,  permasalahan yang terungkap malah lebih dalam. Yang mendesak diperlukan oleh berbagai seminari menengah, adalah kebutuhan sehari-hari. Ketika itu sangat mencuat di luar Jawa.   Ketika masalah ini dibicarakan dalam beberapa pertemuan, muncullah pemikiran bahwa agar tujuan awal oleh para peduliwan tetap tidak berubah (perbaikan sarana pendidikan seminaris) maka semangat kepedulian ini perlu digandakan atau ditularkan kepada umat lain.

Atas dasar pemikiran tersebut, maka lahirlah GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari) yang mencoba ikut memecahkan permasalahan di atas.  Inti pemikiran awalnya adalah agar permasalahan kebutuhan sehari-hari yang dihadapi sekolah-seminari dapat menjadi bagian dari kepedulian awam yang lebih luas, sehingga meski secara individual umat berkontribusi kecil, namun denga kebersamaan, kontribusi bersama itu tentu menjadi berarti.

Dalam perjalanannya, GOTAUS lalu menjadi mitra resmi Komisi Seminari KWI. Di samping Gotaus, Komisi Seminari masih mempunyai dua mitra yang lain, yaitu Kelompok Semangat yang merupakan senior sekaligus induk dari Gotaus, dan Perkumpulan Gembala Utama (dulu berupa yayasan), sebuah kelompok peduli seminari yang dikelola oleh alumnus Seminari Mertoyudan.

Mengetuk Pintu Gereja yang Sibuk

            Gerakan  yang murni awam dan spontan ini, ketika harus melebar kepada umat yang lebih luas, tentu harus melalui tahapan formalitas, agar kelak akuntabilitasnya dapat diterima para peduliwan GOTAUS. Tahapan-tahapan itu misalnya:

  1. Mengingat gerakan ini akan meliputi berbagai tempat di wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), maka gerakan ini harus sepengetahuan dan seijin KAJ.
  2. Mengingat perhatian yang diberikan akan meliput seminari-seminari menengah (semula luar Jawa saja, tetapi belakangan seluruh Indonesia), maka gerakan ini haruslah dengan sepengetahuan dan seijin pihak Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI).
  3. Mengingat gerakan ini belum punya domisili sekretariat, dan aktivitas kepeduliannya sangat dekat dengan Komisi Seminari KWI, maka perlu suatu koordinasi agar aktivitasnya tidak terpisah-pisah dan umat tidak dibingungkan oleh pelbagai kelompok yang bergerak mengatasnamakan ‘seminari atau panggilan imam’ pada umumnya.

Tahapan formalitas ini ternyata juga tidak mudah. Kesan yang diterima GOTAUS dari pesan KAJ yang disampaikan melalui sekretaris Komisi Seminari  pada awalnya adalah: ‘Jangan bebani Gereja dan jangan jual nama hirarki untuk gerakan ini!’ Memang pada awalnya beberapa orang relawan bertanya-tanya untuk apa bersusah-susah, kalau hirarki sendiri tidak welcome?

Namun entah apa yang dirasa teman-teman peduliwan, tampaknya ada semacam personal mission di hati masing-masing untuk tetap berjalan, karena tujuan yang dirasa mulia. Terdorong oleh perasaan di atas, maka Pengurus (sementara) GOTAUS mengadakan audiensi ke KAJ pada tanggal 21 Maret 2001, di terima  Romo Roy Djakaria S.Y., ekonom KAJ. Dengan banyak catatan, akhirnya memperoleh kesepahaman tertulis dari KAJ, dan hasil pertemuan inilah (dituangkan dalam laporan ini pada  halaman lain) yang menjadi dasar berpijak.

Selanjutnya puji Tuhan, GOTAUS akhirnya secara resmi dimasyarakatkan di kalangan umat Katolik, melalui Misa Konselebrasi pada tanggal 10 Mei 2001.  Tidak tanggung-tanggung, sebelas Uskup, memberikan restu melalui partisipasi pada Misa Konselebrasi tersebut termasuk Bapak Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, uskup Agung Jakarta. Walaupun jumlah umat yang hadir sedikit dibawah harapan, antara lain karena adanya ledakan bom di Manggarai 4 jam sebelum Misa dimulai. Namun demikian, GOTAUS tetap memperoleh sambutan umat secara spontan yang tulus, terbukti dari terjaringnya sekitar 300 peduliwan seminari, baik sebagai donatur tetap maupun insidentil, dan jumlah partisipasi/bantuan yang telah diberikan dengan sukarela.

Dengan dukungan moral yang diberikan oleh Bapak-Bapak Uskup, dan relawan yang berkenan menjadi donatur tetap maupun insidentil, GOTAUS terus melangkah, sambil belajar dalam perjalanan. Saat ini GOTAUS telah diakui dan diterima secara resmi oleh KWI dan menjadi mitra resmi Komisi Seminari melalui SK no. 177/Pres.K/2004. Demikian pula sekretariat GOTAUS menggunakan sekaligus kantor yang sama dari Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI. Bahkan, Romo Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari menjadi Sekretaris ex officio pada GOTAUS itu sendiri. Hal ini kiranya menjadi simbol terbukanya ‘pintu’ hati kita sekalian yang bertanggung jawab atas pembinaan panggilan, baik kalangan hirarki maupun kaum awam. Kenyataan ini menjadi indah ketika ke dua pihak mau melangkah bersama memasuki pintu millenium kekristenan yang baru dengan bersama-sama lebih memeperhatikan kebutuhan pembinaan panggilan, baik kualitas maupun kuantitas, dengan mengupayakan bersama apa saja yang menjadi kebutuhan seminari di Indonesia.

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya