PENGALAMAN SERTA HARAPAN SEORANG MISIONARIS ‘MANTAN’ BELANDA

Jum`at, 7 November 2008 11:49:13 Oleh : admin

Seingat saya sejak kecil saya tidak pernah memimpikan sesuatu yang lain dari menjadi kapusin atau misionaris. Hal itu terutama disebabkan oleh tradisi dan situasi keluarga kami. Adik dari kakek serta sudah misionaris Kapusin di Borneo sejak 1912. Ia hidup menurut fantasi kami, di hutan belantara ditengah-tengah orang Dayak yang terkenal karena hobinya memotong kepala orang.


Kemudian menyusul dua paman ke sana. Dari mereka abangnya meninggal dunia selama internering Jepang pada tahun 1945, sedangkan adiknya hanya bertahan 2 tahun, lalu terpaksa pulang karena menderita penyakit TBC. Bertahun-tahun lamanya ia terpaksa berobat, karena tempo hari belum dikenal obat yang canggih seperti streptomisin dst. Akhirnya sebagian dari paru-parunya diambil; lalu ia dapat berfungsi sebagai sekretaris di procura. Masih pernah ia dikirim ke sana yaitu Kalimantan, tahan 6 tahun, lalu pulang definitip karena kesehatannya ambruk lagi. Sampai wafatnya ia tetap bertugas sebagai sekretaris di Procura. Selain dari mereka kami masih punya “paman Tionghua”. Sangat istimewa tentu. Orangnya lahir di singkawang, berstudi  di seminari menengah Kapusin Belanda, tatapi waktu libur ia ikut ke kamping kami dan dianggap sebagai anggota keluarga kami. Masih ada lagi semacam paman misionaris Kapusin yang bertugas di Pematangsiantar. Beliau meninggal dunia di Medan, sekarang tulang-belulangnya di Sinaksak. Mereka itu semua pahlawan, foto-dotonya yang besar menghiasi dinding rumah kami. Apalagi penampilannya sangat romantis. Tidak heran saya suka juga demikian. Apalagi ketika abang (pak Wiro, juga misionaris dan tinggal di keuskupan) masuk seminari, saya pun tidak mau ketinggalan.


Masa Perubahan
Sejak saya masuk novisiat pada tahun 1960 dan pada tahun-tahun berikutnya selama saya ikuti studi filsafat dan theologi, suasana dalam masyarakat, begitu pula dalam gereja, mulai mengalami perubahan yang cukup mendalam. Persis tahun-tahun itu dilangsungkan Konsili Vatikan II (1962-1965). Sebagai frater kami mengikutinya dari hari ke hari dengan segala liku-likunya. Lebih daripada sekarang kompetisi sepak bola diikuti.
Tentu saja, pandangan dan penghayatan kami tentang gereja sangat dipegang, sekarang semakin diyakini bahwa gereja dipanggil menjadi pengabdi dunia, pewarta dan sarana demi realisasainya Kerajaan Allah. Tentu saja dengan dramatisasi juga. Skripsi saya berjudul :”Keselamatan dalam agama-agama se dunia”. Istilahnya agama non kristani yang sebelumnya kerapkali dipakai, sudah boleh dilihat sebagai kemajuan timbang-timbang agama kafir misalnya, toh dinilai terlalu diskriminatif. Selain gagasan sejumlah teolog yang tersohor, pernyataan Konsili “Nostra Aetate” memang menjadi dasar skripsi saya itu.
Waktu itu muncul bermacam-macam istilah untuk merumuskan kembali tujuan dari misi, salah satu adalah “misi dalam enam benua” untuk menggarisbawahi bahwa misi berlaku dimana saja nilai-nilai injili masih belum cukup berkakar dan berbuah, termasuk negara-negara yang sudah berabad-abad lamanya dianggap kristiani. Untuk penghayatan saaya lebih pas semboyan :”asistensi pada hereja diseberang laut”. Sebenarnya eufumisme bagi bekas-bekas koloni yang baru merdeka. Di sana pada umumnya gereja sudah berdiri, bahkan tidak jarang berkembang dengan pesat dan dinamis. Tetapi masih membutuhkan bantuan kader untuk sungguh menjadi dewasa dan mantap. Istilah asistensi di kalangan kapusin sangat biasa dipakai terutama utnuk membantu paroki-paroki yang dilayani oleh pastor projo. Maka dalam tradisi kita kata itu cukup berakar.
Ternyata sangat cocok untuk situasi Gereja di Indonesia, terutama dalam keuskupan Agung Medan. Terkenal sekali sebagai suatu Gereja yang amat cepat berkembang, nampaknya suatu dinamika yang cukup unik, untuk sebagian besar ditangani oleh  kaum awam. Para pastor pribumi belum ada, sekalipun calonnya sudah cukup lumayan banyak. Biara kita di jalan Medan harus dibangun karena di prapat tidak muat lagi. Maka cita-cita saya jelas sejak itu : berangkat kesana untuk menolong sekedar sampai makin dewasa, sebagai rekan pastor-pastor disitu yang defakto semua masih Kapusin (sekalipun Karmel sudah ada dan Konventual). Bahkan sempat saya minta dari provinsial agar secepatnya sudah kaul kekal boleh berangkat untuk mengikuti theologi di sini, supaya lebih dini mengenal saudara-saudara lalu akrab dengan suasana dan budaya. Tidak diizinkan dengan alasan bahwa keadaan politik makin khawat. Maklum waktu itu menjelang Gestok (G 30 S)
Rasanya dengan demikian cukup terjawab apa yang mendorong saya dan apa yang saya harapkan tempo hari.


Persiapan penuh
Persiapan saya untuk menjadi misionaris lumayan baik dan intensif. Satu tahun penuh yang disebut tahun pastoral. Di STFT kami dulu tahun pastoral dilangsungkan sesudah studi formal selesai. Lalu dibedakan : mereka yang tujuannya pastoral dalam negeri dan mereka yang ditentukan bagi luar negeri, yaitu Misi. Yang terakhir ini dibagi atas tiga kelompok : Amerika Latin, Afrika dan Asia. Kelompok Asia mencakup Filipina dst. Sejumlah kuliah yang lain per kelompok untuk benih menyoroti situasi kondisi dalam benua yang dituju. Termasuk tugas mengarang skripsi tentang situasi lapangan kerja nanti. Sepanjang tahun juga sudah ada kuliah bahasa Indonesia. Selain dari itu kami mengikuti kursus intensif 6 minggu lamanya di bidang medis, diselenggarakan oleh Memisa. Organisasi gerejani di negeri belanda yang sangat aktif dan berjasa. Kami mengikuti kuliah yang menyangkut kesehatan dan perawatan yang sederhana. Ikut juga praktek di rumah sakit.
Kaitannya dengan spiritualitas kapusin tidak terlalu dirumuskan dan didalami, karena dirasakan begitu eksplisit disebut dalam AD dan begitu kuat berakar dalam tradisi Ordo. Dinilai sebagai salah satu aspek dari misionaris kita dan kekatolikan kita. Refleksi atas kekhasan misi dalam pandangan fransiskan baru kemudian hari mulai dikembangkan. Juga sebagai hasil dari anjuran Konsili vatikan II untuk mendalami sumber-sumber sejarah spiritualitas dari tarekat masing-masing.
Yang lebih penting saya rasa ialah : hubungan batin antara saudara-saudara seprovinsi yang tinggal dalam tanah air dengan para misionaris sangat kuat. Rata-rata seperlima dari semua Kapusin Belanda memang pernah misionaris, banyak diantara mereka seumur hidup. Publikasi tentang hal ikhwal mereka boleh dikatakan diusahakan secara kontinue oleh prokura yang aktif lewat buku dan majalah.
Procura juga menyelenggarakan pameran secara berkala di paroki-paroki; sumbangan dari kaum beriman di mana saja terjangkau oleh banyak relawati. Surat-surat dari misionaris juga secara intern dipublisir dalam bentuk stensilan sederhana. Kebanyakan frater ada salah seorang misionaris sebagai prefand. Waktu misionaris libur kerap diadakan temu muka dengan mereka untuk tukar pengalaman. Pada hari studi terkadang mereka diminta memberikan masukan dst. Melalui semua itu tercipta suatu ikatan yang sangat kokoh kuat, misi dinilai karya kita, kebanggaan propinsi.
Harus dicatat bahwa hal itu bukan suatu keistimewaan ordo kita saja, karena hampir dalam semua ordo dan kongregasi lainnya (terutama konggregasi misi, tentu) ada iklim yang kurang lebih serupa. Demikianlah memang suasana umum Gereja Katolik Negeri Belanda tempo hari: serba aktif, serba rajin, serba katolik serba taat kepada Roma dan terutama: primadona di seluruh dunia di bidang misi, baik dari segi aktivitas maupun dari segi jumlah tenaga misionaris.


Masih sesuai harapan
Pengalaman saya setibanya disini tidak terlalu melesat dari harapan sebelumnya. Suasana persaudaraan (masih didominasi saudara Belanda tentu saja) rasanya tidak asing, menyesuaikan diri dari terlalu sulit dari segi cuaca, makanan, gaya hidup dan lain sebagainya.  Bahasanya, itulah yang paling berat mula-mula : kurang berani, karena malu, takut kesilapan, takut ditertawakan, demikianlah halangan utama saya (dan bagi mayoritas dugaanku). Pada saat mulai memberanikan diri, langsung merasa at home.
Pada saat, saya mulai memberanikan diri menggunakan bahasa Indoensia langsung merasa at home. Semakin dekat juga dengan umat, dengan mentalitas sehingga budaya juga semakin dapat dipahami dan diapresiasi. Terutama bahasa daerah, syarat mutlak, menurut hemat saya agar betul-betul dapat menjiwai situasi hidup dan hati orang.
Selain dari bahasa, hidup dalam komunitas kecil menuntut penyesuaian yang agar berat bagi saya dulu. Pindahnya dari komunitas seminari Menengah ke Perguruan dalam arti tertentu lebih berat daripada pindah dari Tiburg ke Indonesia. Sebabnya di Negeri Benalnda dulu tidak ada pengalaman hidup dalam komuntas kecil.


Usaha Pastoral
Dua prioritas saya pegang dari permulaan dalam usaha pastoral : meningkatkan mutu pelayanan para pemuka jemaat serta usaha meningkatkan posisi ekonomi umat. Maka dari sebab itu senantiasa saya utamakan sermon dan kursus di paroki-paroki yang saya layani. Lagi sejak Pankat KAM mulai bergerak saya senantiasa turut serta di dalamnya.
Sama halnya CU sejak saya tahu tujuan dan cara kerja CU (pada tahun 1971-1972) maka saya merasa tertarik karena melihat inilah jalan praktis mewujudkan cintakasih dan solidaritas injili. Keyakinan ini masih tetap saya pegang, sekalipun de fakto cita-cita CU tidak senantiasa ditaati dengan murni.


Kursus perkembangan desa juga dering kami laksanakan terutama di daerah sekitar Aek Kanopan dan Aeknabara, dengan harapan agar potensi umat kita yang belum disadari dapat digali dan dipergunakan.
Sampai saat ini menurut penilaian saya kedua segi itu masih sangat aktual, bahkan semakin relevan. Tanpa pendalaman iman banyak umat kita akan tumbang oleh taufan sekularisasi, sedangkan mutu iman umat kita praktis tergantung sari mutu pelayanan pemuka jemaat. Masa kini, daripada maju kita dalam hal ini justru cenderung semakin mundur, dengan akibat yang fatal untuk masa depan. Jurang pemisah antara yang miski dengan yang sukses semakin melebar saja. Pelayanan mapan cenderung memfokuskan diri kepada mereka yang sedikit banyaknya sukses. Sedangkan mayoritas umat kita masih miskin, barangkali semakin dipermiskin.
Dua bidang inilah merupakan bidang yang betul-betul pantas disebut misi.


Masa misi
Pada masa masa kini ramai-ramai kita mulai bicara mengenai misi. Suatu persaudaraan yang dewasa memang wajar demikian. Namun ternyata cukup kabur apa yang dimaksud dengan misi.
Berkarya buat sementara di luar negeri bagi saya bukan dengan sendirinya karya misi. saya anggap itu salah satu gejala dari globalisasi. Maka kalau ada saudara kita yang bertugas buat beberapa tahun di Australia misalnya, karena tetangga kita dan kehadiran kita diharapkan oleh saudara-saudara kita disana, wajar-wajar saja tetapi bukan misi.
Sudah lain soal apabila mau mengisi kekosongan disana, misalnya karena kaum muda tidak lagi tertarik pada hidup religius. Daripada menyelubungi masalah itu, lebih kreatif sekiranya digali penyebabnya. Menyebarkan Ordo kita seluas mungkin bagi saya juga bukan pantas disebut misi. Tanpa mau melemahkan semangat saudara-saudara kita yang aakan berangkat ke Vietnam, saya pertanyakan mengapa mesti kesana? Karena belum ada kapusin disana? Mutlak demi terwujudnya kerajaan Allah adanya Kapusin? Sedangkan saudara Dina sudah banyak. Persentase katolik juga lebih tinggi daripada di Indonesia sendiri.
Misi dalam arti sebenarnya saat ini adalah menurut hemat saya: rela dan berani hadir dalam situasi yang belum atau sangat kurang disentuh oleh nilai-nilai injili dan mengusahakan persaudaraan sejati diantara orang-orang yang berbeda karena ras, kelas sosial, agama dst.
Maka usaha kita dibidang KPKC yang baru mulai dengan agak hati-hati merupakan misi dalam arti sejati, masa kini di Indonesia ini. Harapan saya inilah akan diangkat menjadi satu prioritas tinggi, yang mengikat kita sebagai persaudaraan. Sehingga sejumlah saudara berkecimpung disitu sebagai team.
Salah satu bidang lain yang teramat luas dan berat pula adalah mempererat hubungan kita dengan saudara-saudara muslim. Untuk masa depan Indonesia, bahkan masa depan manusia, inilah salah satu yang paling mendesak. Lagi pula ini sangat sesuai dengan cita-cita Fransiskus. Kita ternyata sampai sekarang sangat enggan, menghindar, karena sulit.
Akan tetapi inilah harapan saya : supaya dari antara kita ada beberapa saudara yang bersedia hidup bersama-sama dengan saudara muslim sambil mendamali spiritualitas mereka serta mencari jalan dan upaya menegakkan keadilan bersama dengan mereka. Mungkin berhubungan erat dengan apa yang saya katakan tadi tentang KPKC.
Meskipun demikian, hal itu tidak bisa dipaksakan, karena merupakan panggilan khusus sebagaimana ditekankan dalam AD. Hanya inilah: iklim dalam persaudaraan barangkali dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pangilan untuk itu dapat berkembang.
Akhir kata, harapan saya : siapapun, kemanapun: belajarlah bahasanya dengan sungguh-sungguh dan coba mendalami budaya orang disana. Syarat mutlak untuk menjadi saudara bagi mereka, apalagi  saudara dina!



R.P. Arie van Diemen, OFMCap
Paroki Santo Fransiskus Assisi Balige, Kabupaten Toba Samosir
Jabatan :
• Pastor rekan di dua paroki: Santo Fransiskus Asisi balige dan Santo Joseph Parsoburan (kedua paroki berada di kabupaten yang sama)
• Ketua Komisi Kateketik & kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Historia" Lainnya