Retret para frater Seminari Tinggi Int Yerusalem Baru Papua

Rabu, 10 Agustus 2011 08:37:00 Oleh : admin

SUDAH LAYAK DAN SEPANTASNYA
Meluruskan buluh yang terkulai, menemukan kembali cahaya yang mulai pudar, membiarkan cahaya berkembang, merangkul rahmat kebijaksanaan dan kesetiaan memandang diri dan sesama dengan cara pendidikan murni dan positif.
Mengawali tahun akademik 2011/2012, para Frater Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru Papua mengikuti masa ret-ret selama enam hari, terhitung dari Senin 25-Sabtu 30 Juli 2011. Kegiatan retret ini berlangsung di aula St. Yoseph asrama Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Para calon imam yang berasal dari lima keuskupan yang tersebar di tanah Papua (Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari Sorong, Keuskupan Agats dan Keuskupan Timika) ini, diarahkan untuk terus menggumuli dan merefleksikan tapak-tapak panggilan hidupnya. Peserta retret dibimbing oleh Pater Alloysius Setitit OSC dengan mengusung tema “Sudah Layak dan Sepantasnya”. Tujuan yang sangat diharapkan melalui usungan tema di atas adalah agar setiap calon imam/frater yang sudah diterima sponsor di keuskupan masing-masing, seudah layak dan sepantasnya membangun kehidupan bersama dan menata irama hidup komunitas Seminari Tinggi yang bernuansa budaya, keluarga asal dan keuskupan asal.
Dengan bersumberkan pada Kitab Suci dan buku Original Blessing karangan Matthew Fox, sang pembimbing terus membawa para peserta retret untuk mendalami empat hal pokok. Keempat hal pokok yang dimaksud adalah Via Positiva, Via Negativa, Via Creativa dan berakhir dengan Via Transformativa. Pendalaman atas keempat hal di atas dilakukan baik melalui permenungan pribadi maupun kelompok sharing.
Empat pokok di atas juga menjadi fokus untuk ber-refleksi dan bergumul menjawabi tema dan tujuan yang diharapkan dari peserta retret. Proses yang dilalui dalam setiap session meliputi: Presentasi materi oleh pembimbing, refleksi pribadi, sharing kelompok kecil dan pleno (sharing kelompok besar). Selanjutnya setiap session diakhiri dengan dipertontonkan “Power Point” kepada peserta sesuai dengan pokok yang dibahas. Hal ini sangat membantu para peserta memperdalam hasil refleksi dan permenungan mereka.
Via Positiva
Melalui via positiva, seseorang dibantu untuk membangun suatu relasi persahabatan bukan berdasarkan standar persaingan (yang tidak sehat) satu sama lain. Via positiva juga dapat membantu manusia untuk menata suatu konsep/pemikiran yang positif terhadap gejala yang dihadapinya. Intinya bahwa Matthew Fox menekankan bahwa hendaknya manusia menggunakan kacamata yang terang/positif untuk melihat dirinya, sesama, alam dan Tuhan sendiri.
Dalam session ini, para peserta ditantang untuk mampu melihat diri sendiri secara positif. Dasar biblis yang dijadikan sebagai sumber permenungan yakni Kitab Kejadian 1:25-31. Bahwa manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam derajatnya sebagai ciptaan yang istimewa dari segala ciptaan yang lainnya, manusia diharapkan mampu memelihara dan memberikan keselamatan hidup bagi alam/makro kosmos. Manusia telah diciptakan dengan segala bakat, kemampuan dan kharisma masing-masing untuk mengolah dan menata alam ini.
Selanjutnya Matthew Fox mengatakan suatu kesimpulan bahwa kita semua berasal dari berkat asal Allah. Asal mula kita dari rahmat kasih Allah. Maka manusia beserta makro kosmos yang ada dan menempati dunia ini, semuanya berasal dari berkat Allah sendiri.
Di bagian akhir session ini, para peserta diberikan kesempatan untuk mendalami pokok (Via positiva) ini dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun. Pertanyaan yang menjadi fokus refleksi pribadi adalah, apakah peserta merasa diri sebagai makluk ciptaan Allah yang berharga?
Setelah sharing kelompok diplenokan, peserta diminta untuk menulis dan mengumpulkan significant event (peristiwa penting/berkesan) hari yang bersangkutan. Ini sebagai suatu cara untuk menuntun peserta menyadari bahwa hendaknya kita membangun sikap hidup yang optimis, sebab Tuhan masih memberikan kesempatan unuk mengalami peristiwa-peristiwa dalam hidupnya.
Dengan demikian dalam via positiva, peserta diarahkan untuk melihat hal-hal positif yang terjadi dalam dunia makro dan mikro. Manusia berupaya untuk saling menghargai sebagai Berkat Asal Allah dan saling menunjang kelangsungan hidup sebagai makluk peziarah di dunia ini. Sebagai penutup session ini, pembimbing mempertontonkan “Power Point”, yang terdiri dari dua judul, yakni Petualangan Mencari Jati Diri dan Negatif atau Positif.
Via Negativa
Mendalami session kedua ini, peserta ajak untuk merenungkan Kitab Kejadian 3:1-24. Virus yang mulai menggerogoti hati dan pikiran Adam dan Hawa, manusia pertama adalah “veirus kesombongan”  yang ingin menyamakan diri dengan Allah, sang penciptanya. Maka mereka diusir keluar dari Taman Eden. Mereka beralih ke taman Edan, suatu taman dimana Adam harus membanting tulang untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Sementara Hawa ketika akan melahirkan penuh dengan pergumulan, sakit yang tiada tara bahkan nyawanya atau sang bakal bayi terancam, bagaikan telur di ujung tanduk.
Peserta diarahkan juga untuk melihat ajakan Matthew Fox dalam bukunya, yang mengatakan bahwa jika kita mau keluar dari kesalahan, dosa dan penderitaan, kita harus berani masuk ke dalamnya. Dengan demikian, cara bersahabat dengan kegelapan dan kesakitan merupakan jalan terbaik untuk bisa mengolah dan menyelesaikannya. Upaya pengosongan diri/kenosis dengan cara berbicara, sharing atau curhat sehingga menjadi ringan.
Dalam bagian permenungan dan refleksi, pembimbing retret membawa peserta untuk flashback, sejauh mana pengalaman-pengalaman negatif yang pernah dialami itu secara langsung dan tidak langsung muncul kembali pada situasi-situasi tertentu. Dari semua pengalaman pahit tersebut, peserta bisa men-sharingkan pengalaman-pengalaman negatifnya yang paling menggerogot dalam hidupnya dan bahkan yang hampir membuatnya putus asa. Setelah sharing, kelompok menentukan pengalaman salah satu anggotanya dan didramatisasikan oleh kelompok yang bersangkutan (Psikodrama). Drama tersebut ditampilkan pada waktu pleno dalam kelompok besar.
Hal yang sangat menarik dari pleno dan dramatisasi setiap kelompok tersebut bahwa aktor utama (protagonis) mendapat banyak masukkan dari peserta retret (kelompok) yang lain. Setiap aktor utama yang pernah mengalami peristiwa pahit, mendapat peneguhan yang sangat berarti. Inilah salah satu proses penyembuhan luka batin dari pengalaman pahit yang pernah terjadi dan telah lama tersimpan dalam memori. Session ini menjadi moment penyembuhan bagi para peserta yang telah sekian lamanya dihantui oleh pengalaman-pengalaman pahit masa lalu dan pengalaman itu terus tumbuh menjadi ilalang dan membawa pengaruh yang besar dalam perkembangan pribadi yang bersangkutan. Salah satu psikodrama yang ditampilkan dan menarik perhatian adalah perihal kekerasan dalam keluarga. Dari drama ini peserta diajak untuk memahami bahwa pola pendidikan dalam keluarga asal dan dalam pendidikan formal di setiap jenjang apabila salah digunakan, maka membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan anak ke depan. Hal ini ditemukan dalam salah satu power point yang ditampilkan yakni “Racun Pembunuh Impian”. Judul ini sangat membantu para peserta untuk masuk ke dalam pengalaman hidupnya sendiri.
Via Creativa
Selain via positiva dan via negativa, peserta menggumuli satu pokok selanjutnya, yakni via creativa. Cara pendekatan terhadap via creativa ini adalah pendekatan yang wholistic/menyeluruh dan holistic/kudus. Daya kreatif tidak akan terjadi jika tidak ada via positiva dan via negativa. Dengan demikian disini terlihat berlakunya hukum Hegel. Via positiva berposisi sebagai tesis, via negativa berperan sebagai antitesis dan via creatia sebagai sintesis.
Bersumberkan pada dasar biblis Lukas 9:22-27, pembimbing mengantar peserta untuk memahami pengaruh via creativa dalam diri Yesus Kristus sendiri. Yesus mengatakan bahwa “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk9:23). Yesus adalah Putera Allah yang rela mengambil rupa seorang manusia yang lahir ke dunia. Namun karena begitu besar kasih-Nya akan kita manusia, Dia rela mati bagi kita melalui jalan kesengsaraan, kematian-disalibkan. Tidak berakhir disitu saja, Yesus Kristus secara mulia dan jaya dibangkitkan oleh Allah. Peristiwa kebangkitan sebagai simbol bahwa dosa manusia telah ditebus dengan darah-Nya sendiri.
Untuk mengaca diri secara lebih jauh dan mendalam, pembimbing memberikan kesempatan merefleksikan point ini baik secara pribadi maupun kelompok. Kegiatan ini sangat membantu peserta untuk menyadari diri bahwa kepadanya telah diberikan kemampuan-kemampuan/bakat-bakat tertentu untuk dikembangkan secara kreatif. Di sini peserta secara jelas mendapatkan pemahaman bahwa menjadi pribadi yang kreatif merupakan hal yang sangat perlu. Sebab daya kreatif yang secara positif dapat berguna bagi diri sendiri maupun bagi sesama, tetapi terutama bagi Allah, Sang pencipta.
Tentunya akan sangat bagus jika kekreatifan itu dibangun awalnya melalui via positiva dan via negativa. Peserta harus membangun suatu pemikiran yang positif (positive thinking), agar peserta mendapat iluminasi/pencerahan untuk menghasilkan suatu kekreatifan. Begitu via negativa menjadi sangat berarti bagi manusia untuk kreatif. Dalam keadaan yang paling sulit dan penuh tantangan hidup, seseorang mendapat banyak inspirasi untuk menjadi pribadi yang kreatif. Orang mulai belajar dari kejatuhan dan dari kejatuhan itu pun ia mau belajar untuk menjadi lebih baik. 
Peserta retret ditantang untuk dengan berani menjadi pribadi yang kreatif baik dalam kehidupan dan perkembangan pribadinya maupun dalam hidup berkomunitas (dalam ruang lingkup yang lebih luas). Hal ini seperti yang ditampilkan dalam power point dengan judul “Orang-Orang di Sekitar Kita”, dimana digambarkan bahwa seorang pramugari berani menyelamatkan seorang kulit hitam yang betul-betul ditolak kehadirannya.
Via Transformativa
Seluruh rangkaian point yang direnungkan diakhiri dengan materi tentang via transformativa. Di dalam dan melalui via transformativa, peserta diajak untuk meninggalkan manusia lamanya dan menjadi manusia baru dalam seluruh hidupnya, kepribadiannya dan caranya menghadirkan/membawa diri di dalam suatu komunitas/persekutuan. Manusia yang dahulu terlalu mengedepankan sikap egoisme, kesombongan dan iri hati menjadi altruis, rendah hati dan suka mengampuni, bahkan kerelaan untuk membantu sesama yang membutuhkan.
Dasar biblis yang digunakan oleh pembimbing dalam mengantar peserta dalam permenungan dan refleksi adalah Kitab Yeremia 29:11-14. Bahwa komitmen untuk mentransformasi diri membawa manusia untuk menatap suatu masa depan secara lebih cerah. Sebab Allah berfirman dalam Kitab Yeremia bahwa “Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu”.
 Keinginan dan tujuan dari suatu sikap yang transformatif adalah semakin banyak berbuat kebaikan bagi sesama demi kesejahteraan dan bonum commune/kebaikan bersama. Dalam kaitan dengan tujuan ini, maka peserta diajak untuk melihat kembali sejauh mana kehidupan bersama dalam komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan dan juga kebersamaan dalam wisma, benar-benar telah mengarah kepada tujuan yang diharapkan. Karena itu, kesempatan retret ini menjadi moment yang sangat tepat untuk mengatur dan menata komunitas tersebut sedemikian, sehingga mencerminkan komunitas Kristus Yesus yang pernah terbentuk dengan para murid-Nya.
Seluruh rangkaian kegiatan retret ini diakhiri dengan misa meriah bersama yang dipimpin oleh Pater Alloysius Setitit OSC, di Kapela Yesus Bangkit Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Sebagai simbol peralihan dari hidup lama kepada kehidupan yang baru, maka peserta menuliskan sikap-sikap yang tergolong sebagai gandum dan juga yang tergolong sebagai ilalang. Sikap-sikap baik/gandum dipersembahkan di altar dalam perayaan meriah Ekaristi, sementara sikap-sikap tidak baik/ilalang dibakar.
Dengan adanya komitmen untuk berubah menjadi manusia yang baru, maka peserta sebagai calon-calon imam yang akan melayani umat di lima keuskupan tanah Papua menyadari diri bahwa benar-benar ia layak dan pantas menjadi pelayan Tuhan.



Alamat:
Fr Agustinus Lonis
 
Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur
Jl. Yakonde no.9-12
Kotak Pos 219
Abepura – Jayapura
Papua

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya