Komisi Seminari KWI
Rubrik : Opini
HIDUP SELIBAT SEBAGAI TANDA HIDUP YANG AKAN DATANG
2010-09-29 14:20:38 - by : admin


Bavo Samosir, OCSO


Penghayatan hidup selibat, kemurnian harus berdasarkan pada relasi pribadi dengan Kristus. Tanpa relasi dengan Kristus hidup selibat bukan hanya tidak mungkin tetapi tidak ada artinya.



Mengajak Untuk Bertobat
Pertengahan bulan April lalu seorang umat mempertanyaan tentang arti hidup selibat kepada saya. Yang membuat saya agak kaget pertanyaan tersebut dengan nada yang sangat negatif : baginya hidup selibat itu tidak mungkin. Kalau yang mempertanyaan itu bukan seorang Katolik saya bisa memaklumi tetapi ia seorang Katolik. Saya tanya kembali penyebab sikap negatifnya terhadap hidup selibat. Ternyata ia telah dipengaruhi oleh opini-opini dunia dalam media massa yang memojokkan Gereja Katolik berkaitan dengan skandal-skandal sex yang dilakukan oleh para oknum imam. Dunia – termasuk umat tersebut - meragukan akan nilai hidup selibat.
 


Kalau kita mau melihat dengan ‘kaca mata’ yang lebih positif, skandal-skandal sex yang dilakukan oleh oknum para imam, menyadarkan kita – khususnya bagi para religius -  bahwa kita sebagai satu Gereja masih memiliki kelemahan dan mengajak kita untuk terus-menerus bertobat agar kita setia dengan panggilan selibat kita. Untuk itu kita sebagai Gereja, pertama-tama harus mau berjalan dalam kerendahan hati dengan mengakui adanya skandal-skandal tersebut tanpa harus menutupi demi alasan menghormati atau mau menyelamatkan imamat imam yang bersangkutan. Syukurlah Gereja kini membuang sikap mau menutupi tersebut dan menangani dengan serius pelanggaran-pelanggaran semacam itu.
 


Sangat baik untuk kita renungkan – khususnya bagi para imam – atas jawaban yang diberikan Bapa Suci Benediktus XVI ketika menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang imam – berkaitan dengan skandal sex yang dilakukan para oknum imam dan kritik-kritik dunia akan hidup selibat – pada waktu menjelang penutupan Tahun Imam pada 10 Juni 2010 yang lalu, di lapangan St. Petrus. Beliau justru mengajak para imam agar “dengan sungguh lebih menghayati hidup selibat yang didasarkan pada Allah dan Yesus Kristus” sehingga dunia tidak lagi mengatakan : “tetapi mereka tidak sungguh-sungguh hidup berdasarkan atas iman kepada Allah” melainkan melalui hidup selibat yang kita jalani, dunia akan menyadari bahwa dunia bukan hanya dunia yang ada saat ini saja melainkan ada dunia yang akan datang. Dengan kata lain, kita – khususnya para imam – diajak untuk menjalani kehidupan dengan sikap pertobatan yang membawa kita pada transformasi diri di dalam Kristus.


Relasi pribadi dengan Yesus
 Meskipun dunia meragukan akan nilai hidup selibat – khususnya setelah ada skandal yang mencemari arti hidup selibat, kita ngga perlu risau akan hal itu karena bukankah Yesus telah mengatakan bahwa tidak semua orang bisa memahami dan menerima anugerah khusus itu tetapi bagi kita yang telah diberi anugerah untuk hidup selibat tentu akan diberi pengertian dan iman untuk memahami dan menerimanya, asal kita terbuka kepadaNya. “Kaca mata” positif  yang perlu kita pakai lagi dalam menghadapi skandal-skandal sex yang dilakukan oleh para oknum imam, kita disadarkan bahwa hidup selibat tanpa Kristus tidak mungkin dan tidak ada artinya. Kristus menjadi teladan bagi setiap orang yang mau menghayati hidup selibat. Maka kita harus mengarahkan diri kepada Kristus yang merupakan model dan jiwa dari hidup selibat yang kita jalani. Betapa pentingnya relasi kita dengan Yesus Kristus. Relasi itu pertama-tama kita hayati di dalam perayaan Korban Ekaristi, doa-doa pribadi yang pada akhirnya mengalir kepada penghayatan hidup harian.
 


Meskipun demikian, harus kita akui – ngga perlu disembunyikan - sebagai mahluk ciptaanNya yang masih memiliki tubuh jasmani, sebagaimana manusia lainnya, kita kadang memiliki kerinduan akan kesatuan tubuh jasmani sebagaimana dialami sepasang suami istri. Untuk itu kita perlu ingat akan pengalaman St. Agustinus yang mengatakan bahwa diri kita sebagai manusia tercipta untuk selalu merindukan sesuatu yang melampaui segalanya yang ada di dunia fana ini – termasuk sex - yakni merindukan Allah, kerinduan akan kehidupan yang akan datang, hidup abadi di Surga, dimana Allah meraja secara penuh. Namun karena dosa dan kelemahan manusia, kerinduan itu sering di arahkan pada hal-hal yang fana demi untuk memuaskan egonya semata-mata. Pada akhirnya di dalam diri manusia ada kegelisaan, kesepian bahkan keterpecahan karena memang kerinduan itu hanya dapat dipuaskan di dalam diri Allah yang terjelma dalam manusia Yesus Kristus. Nah penghayatan hidup selibat adalah membantu kita untuk melepaskan diri kita dari ego – dengan segala macam bentuknya – untuk mengarahkan diri pada Allah dan pelayanan kasih terhadap sesama.


Usaha Manusiawi di dalam Rahmat Allah
 Dengan menjalani hidup selibat yang tujuannya untuk hidup bagi Allah dan sesama daripada untuk diri sendiri, kadang – mungkin juga sering - kita justru dihadapkan akan keadaan ketidak murnian hati kita karena kita masih memiliki ego dan dorongan kodrat manusiawi - tetapi jika kita mengarahkan diri kita pada Kristus, maka rahmat Allah akan memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk menjalani hidup selibat, kemurnian dengan setia dan sabar meskipun selalu ada kesulitan-kesulitan baik dari dalam diri kita maupun dari luar diri kita. Kita yakini di dalam salib Tuhan Yesus Kristus  kesulitan-kesulitan itu jika kita hadapi memiliki nilai keselamatan bagi kita dan sesama untuk kehidupan yang akan datang.
 


Dan akhirnya kita tidak hanya mengarahkan pada skandal-skandal sex yang pernah mengaburkan nilai hidup selibat tetapi kita perlu juga melihat dalam diri para imam – khususnya para imam yang telah mengakhiri pejiarahan di dunia ini -  yang setia mengahayati hidup selibat dan kemurniannya sehingga kita tetap percaya dan hidup dalam harapan untuk menjalani hidup selibat dengan setia meskipun karena kita sebagai mahluk yang lemah dan berdosa memerlukan penyangkalan diri dan latihan rohani sepanjang hidup di dalam kekuatan rahmat Allah. Semua itu kita jalani karena panggilan kerinduan kita pada hidup yang akan datang, pada hidup abadi dimana kita semua menjadi satu komunio di dalam komunio Tritunggal Kudus : Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Komisi Seminari KWI : http://localhost/seminarikwi
Versi Online : http://localhost/seminarikwi/?pilih=news&aksi=lihat&id=84