Sudah jadi perhatian Gereja sejak lama, bahwa diperlukan suatu studi lanjut bagi para imam baik dalam rangka on going formation, maupun dalam rangka persiapan tugas baru yang khusus. Fokus perhatian kita untuk kali ini adalah persiapan studi lanjut dalam rangka tugas baru. Tentang siapa yang memilih dan dipilih untuk studi lanjut dan pentingnya studi lanjut tidak menjadi bahan permenungan dalam tulisan ini. (Lihat artikel “Memilih Bidang Studi Lanjut”, Presbyterium , November 2008). Tentu saja tugas baru ini adalah beragam. Ada tugas memperdalam bidang tertentu dengan tujuan pastoral khusus. Ada tugas belajar dengan tujuan untuk mempersiapkan diri sebagai calon formator di tempat-tempat pendidikan calon imam. Ada tugas belajar untuk mempersiapkan diri sebagai calon pengajar di Seminari; misalnya program studi Teologi/Filsafat. Ada tugas belajar untuk menyiapkan diri sebagai calon dosen pada program-program studi lain.
Aneh tapi nyata para imam yang studi lanjut dan akhirnya bertugas sebagai guru atau dosen di Seminari boleh dipastikan bahwa akan bertugas juga untuk formatio rohani dan pribadi calon imam. Mereka akan memdampingi para calon imam entah sebagai pembimbing rohani, rektor atau apalah namanya. Padahal ketika menunaikan tugas belajar mereka tidak secara khusus belajar atau menyiapkan diri sebagai calon formator. Pantaslah hal ini, untuk selanjutnya, menjadi perhatian bersama.
Karena toh nantinya akan menjadi pembimbing dan selama studi lanjut mereka umumnya tidak langsung bersinggungan dengan persiapan pendampingan pribadi dan rohani para calon imam, maka mereka yang akan studi lanjut selayaknya sudah sampai ke tingkatan-tingkatan kedalaman kerohanian dan kepribadian tertentu. Biarlah ini menjadi perhatian para Uskup dan Propinsial beserta komisi personallianya ketika mereka mau menentukan imam tertentu untuk belajar lebih lanjut. Titik refleksi kita adalah: jika seseorang sudah akan ditugaskan untuk studi lanjut, lalu apa saja yang perlu diperhatikan dan disiapkan. Tentu itu semua demi lancarnya tugas belajar yang akan dijalani. Di atas itu semua, adalah agar setelah selesai studi lanjut mereka mampu menjalankan karyanya dengan maksimal sehingga mereka yang nantinya dilayani dapat berkembang baik. Formasi berkelanjutan mengungkapkan jawaban atas rahmat tahbisan dalam keseluruhan hidup dan kegiatan imam dalam kesetiaan terhadap rahmat yang diterimanya. Formasi menjadi seimbang bila terlengkapi unsur spiritual, pastoral, manusiawi, intelektual, systematis dan mempribadi. (Directory on the Ministry and Life of Priests, no 69 dan 74)
TAHU DENGAN BAIK STUDI BIDANG APA
Begitu seorang imam, yang umumnya masih pada tahun-tahun awal imamat, akan studi lanjut, sewajarnya ia menyadari tugas ini secara dewasa dan penuh tanggung jawab. Ia perlu tahu dengan pasti studi atau spesialisasi apa yang ditugaskan kepadanya. Syukur-syukur kalau cocok dengan minat utamanya.
Jaman sekarang, agar seseorang dapat berperan secara penuh dan baik dalam masyarakat, spesialisasi semakin dituntut. Demikian pula spesialisasi dalam ranah studi lanjut imam muda ini. Kalau ia akan belajar Teologi untuk S2 (Lisensiat) atau S3 (Doktor), ia harus tahu persis spesialisasi apa dalam bidang Teologi yang sedemikian luas. Kalau ia akan ditugaskan mendalami Filsafat untuk S2 (Lisensiat) atau S3 (Doktor), ia sudah semestinya tahu cabang Filsafat apa yang akan digeluti. Pendek kata apapun studinya ia mesti tahu dengan baik kekhususannya.
Maka imam muda ini perlu dibantu oleh yang menugaskan entah itu Uskup atau Propinsial untuk mengerti dengan baik spesialisasinya. Bahkan bila dipandang perlu, atau malah sebaiknya, sebelum berangkat studi ia berdialog dengan tim personalia atau lembaga yang menugaskannya. Misalnya kalau ia ditugaskan untuk belajar Filsafat, sebaiknya ia mendapat pengarahan dari mereka secara lebih rinci. Ini mengandaikan adanya tim personalia yang sudah mapan dan mempunyai rencana ke depan jangka panjang yang akuntabel dan antisipatif. Sehingga ketika imam itu mulai studi akan mantab dalam melangkah. Seandainya dalam perkembangan ia atau yang menugaskan melihat prospek lain ya dibicarakan secara lugas dan bersahabat.
PERLUKAH TAHU TUGAS YANG AKAN DIEMBAN?
Memang bukan kewajiban Uskup atau Propinsial untuk selalu memberitahukan tugas yang akan diampu oleh imamnya setelah studi. Namun alangkah baiknya jika seorang imam yang akan studi kurang lebih diberitahu arah penugasan selanjutnya. Pengetahuan ini akan membantu dia untuk konsentrasi dan mengarahkan perhatian. Karena dalam praktek ada rekan imam yang tahu secara persis apa tugas nantinya dan ada rekan imam lain yang tidak tahu apa tugasnya di kelak kemudian hari. Pokoknya disuruh belajar ya berangkat, katanya. Dari pengamatan saya pribadi, imam yang ditugaskan tanpa tahu dengan baik arah penugasannya rata-rata kurang bersemangat dalam studi lanjut.
Jika seorang imam studi Hukum Gereja, terbantulah ia jika tahu apakah akan bertugas sebagai dosen Hukum Gereja atau akan bekerja di Keuskupan dalam bidang pastoral yang berkenaan dengan Hukum Gereja. Betul bahwa dalam kerangka keilmuan sama saja. Tetapi orientasi akan mempengaruhi langkah, misalnya saja dalam membeli buku atau dalam memanfaatkan waktu libur kuliah dan waktu luang untuk kursus atau mengikuti kegiatan-kegiatan senada.
Meneruskan pemikiran di atas, bila tugas di kemudian hari adalah di Seminari Menengah atau di Seminari Tinggi, nah ia perlu orientasi yang bernafaskan Seminari. Untuk yang belajar Spiritualitas atau persiapan menjadi formator halnya sudah jelas. Tetapi juga untuk para calon tenaga pengajar di Seminari, meskipun tidak dikatakan, sebetulnya halnya juga sudah jelas. Ia akan jadi formator, meski amatiran. Agar tidak amatiran semata-mata, ia perlu selama studi lanjut juga membekali diri dengan pendalaman atau kursus tertentu. Ia akan menjadi semi profesional dalam pembinaan atau pendampingan calon imam.
Maka seorang yang memulai belajar akan semakin termotivasi jika ia mengerti arah ke depan seperti apa. Dan kesadaran akan arah ini akan menguntungkan dia secara pribadi maupun lembaga yang mengutusnya.
PERSIAPAN STUDI LANJUT
Begitu tahu tugas belajar dan arah ke depannya serta sanggup menjalankan, tidak ada lagi pertanyaan senang atau tidak senang. Itu tugasku, wujud pengabdianku, titik. Langkah berikutnya adalah mempersiapkan segala sesuatunya. Persiapan praktis tidak usah dibicarakan. Yang perlu dikupas adalah persiapan intelektual dan mental.
Persiapan Mental
Untuk persiapan mental perlu dibangkitkan kesadaran betapa pentingnya tugas tersebut. Betapa besar harapan dan penantian yang ada di masa depan. Apakah ini penting? Penting, agar semangat! Namun kepentingannya harus ditempatkan dalam kerangka pengabdian imamat yang lebih luas. Tentu maksudnya supaya tidak menyombongkan diri. Bukankah sikap hibrid atau sombong tidak disukai oleh para bijak Yunani? Apalagi sikap seperti itu sangat tidak cocok sebagai pengikut Yesus. Rasa bangga yang disertai dengan kerendahan hati untuk menjadi pelayan akan menjadi kunci keberhasilan lebih jauh.
Tugas belajar yang penting ini mestinya bukan pengisi waktu luang. Ini tugas yang tidak mudah. Tantangan akan menghadang. Semangat berjuang, berkurban dan askese akan dituntut dalam pelaksanaan belajar lanjut yang optimal. Maka sikap tekun/tabah dan antusias akan menjadi wujud iman dan harapan. Sikap yang demikian akan menjadi andalan ketika kesulitan datang atau sebetulnya sudah terbayangkan datangnya. Bukankah sebagian imam kita lebih menyukai tugas pastoral berkecimpung langsung dalam jemaat daripada jadi guru dan dosen di Seminari? Maka bagi ia yang akan menjadi calon pengajar di Seminari untuk berhasil hanya ada ungkapan: inilah tugasku yang kucintai. Kalau belum ya pelan-pelan dicintai. Ini bisa jika semua ditempatkan dalam keseluruhan pengabdian imamat.
Persiapan Intelektual
Sedangkan untuk persiapan intelektual perlu ada perhatian istimewa pula. Seandaianya sebelum tahbisan atau sesudah tahbisan tahu bahwa akan studi lanjut ia harus mulai menyiapkan diri. Maka alangkah bagusnya bila sebelum tugas belajar ada waktu tertentu untuk berpastoral barang satu atau dua tahun. Di samping untuk mempunyai pengalaman berpastoral dan bergaul nyata dengan keprihatinan umat, juga untuk menata diri secara mental dan mempersiapkan diri secara intelektual.
Ketika mereka memilih calon yang akan distudikan lanjut pasti sudah ada kriteria tertentu dan melalui mekanisme rapat atau pembicaraan yang panjang. Meski demikian kemampuan intelektual calon yang akan studi lanjut perlu disiapkan secara khusus pula. Secara pribadi ia akan mulai belajar atau membolak-balik buku-buku yang sesuai dengan spesialisasi studi lanjutnya. Mengapa ini penting? Bidang-bidang studi yang pernah dipelajari selama di Seminari adalah sedemikian luas, maka tidaklah mungkin kalau serba mendalam. Sebetulnya banyak yang setingkat pengantar dalam keilmuan tertentu.
Kemampuan berbahasa asing dalam hal studi lanjut bukan tawaran lagi, tetapi suatu keharusan. Untuk kita bahasa asing yang mungkin paling dikuasai adalah bahasa Inggris. Ada baiknya sebagai awal bahasa ini diperkuat lebih dahulu, baik secara aktif maupun pasif. Bila dipandang perlu mengikuti kursus advance dalam bahasa Inggris. Sesudahnya bila memungkinkan memperdalam di negara yang berbahasa Inggris. Langkah berikutnya dalam mempersiapkan bahasa adalah, jika belum, mulai mempelajari bahasa yang akan dipakai dalam perkuliahan. Tentu saja untuk yang studi lanjut di Indonesia tidak perlu. Jika mungkin ya ikut kursus bahasa tersebut sebelum berangkat studi. Sekurang-kurangnya sedikit tahu tata bahasa dan ungkapan-ungkapan dasariah. Pengalaman pribadi saya, meski sudah kursus bahasa Italia di Perugia selama tiga bulan, begitu memasuki perkuliahan serasa di negeri antah berantah yang berbahasa cepat sekali. Bingung pada hari-hari pertama, seterusnya lancar juga. Begitu bahasa pergaulan dalam kuliah dikuasai, ada tantangan berikutnya, belajar bahasa asing lain. Jika metode pribadi sudah ditemukan cocok, maka dengan cepat akan mempelajari bahasa-bahasa lain, khususnya yang serumpun seperti bahasa-bahasa Eropa.
Kemampuan berbagai bahasa sangat memperlancar tugas belajar. Membuka pintu masuk untuk semakin mendalami spesialisasinya bagi pengabdian berkelanjutan. Akan sangat bermanfaat jika yang akan berangkat belajar berguru pada mereka yang sudah pernah menunaikan tugas belajar lanjut. Itu semua mempunyai makna rohani sebagai wujud pengembangan karunia tahbisan yang telah diterima. (2 Tim 1,6)
Rm. Ag. Purnama MSF