Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

TENAGA KERJA INDONESIA:RINGGIT OKE DOA PUN OKE

Selasa, 31 Mei 2011 09:37:03 Oleh : admin

Ada sekitar 250 tenaga kerja Katolik Indonesia di Kuching, Malysia. Mereka punya masalah berkaitan dengan pekerjaan dan hidup rohaninya.
Para romo projo Sintang, Kalimantan Barat berkenan mengunjungi mereka dan berdialog.
Keuskupan Kuching memfasilitasinya. Pertemuanpun diadakan di aula paroki Santo Yosep Katedral di Kuching.

Kabar berita mengenai keadaan saudara-saudari kita di tanah Malaysia sebagai tenaga kerja yang terdengar ‘miring’ di satu pihak dan di pihak lain, dorongan untuk berbagi, mendorong para romo projo Sintang melakukan sesuatu yang nyata.
Para romo mau tahu keadaan mereka termasuk didalamnya bagaimana kehidupan rohaninya.
“Awal mula segalanya ialah upaya untuk memperbaiki hidup. Kami ingin hidup kami tidak susah terus menerus, karena itu kami nekad. Kuching Malaysia kami pandang sebagai tempat yang handal. Datanglah kami kesana dan ringgit menanti”, ujar Anton sang Ketua Tenaga Kerja Katolik memberi alasan mengawali pertemuan ini.
Sakit itu so pasti. Sakit karena dibuat sakit dan sakit karena salah sendiri. Kalau dibuat sakit umumnya datang dari para agen dan pimpinan tempat usaha. Kalau sakit karena salah sendiri biasanya karena salah urus.
Ada yang ke Kuching sekedar mau merantau untuk mencari pengalaman. Yang bersangkutan lantas tidak peduli segala urusan yang menyertainya menyangkut soal paspor atau ijin masuk tanah orang.
Monika misalnya, ibu asal Ngada, Bajawa, NTT pergi ke Kuching untuk mengkuti suaminya yang telah bekerja 5 tahun di sana. Maksud hati menjenguk suami apa daya suami kabur. Suaminya telah menikah lagi dengan wanita setempat. Monika terpaksa bekerja apa saja demi mempertahankan diri dan anaknya yang di bawa serta.
Ibu satu anak ini terkena sanksi dan ditindak sebelum akhirnya diperkenankan bekerja setelah melengkapi diri dengan aturan yang ada.
Tidak sedikit tenaga kerja Indonesia atau Indon sebutan Malaysia yang mengalami nasib seperti ibu Monika yang terkena sanksi, ditindak sampai ditahan, malah rupiahnya diambil.
Umumnya tenaga kerja Indonesia bekerja di kilang/pabrik, bangunan, toko atau kedai/warung.
Mengenai kehidupan rohani, mereka pun berkisah. Samson dari Manggarai punya cerita. Misa Minggu atau Hari Raya diakuinya jarang di hadirinya.
Ada Misa tetapi aturan kerja membuat mereka tak sempat. Ketika ditanya mengenai kehidupan doa, pemuda lajang ini mengakui bahwa dirinya berdoa saban hari.
“Soal doa tidak masalah. Saya selalu berdoa. Cuma Misa susah diikuti. Pekerjaan membuat dirinya dan kawan-kawannya, tak selalu ke gereja pada hari Minggu atau hari-hari lain yang diwajibkan”, akunya lebih jauh.
Hal ini juga dibenarkan oleh pastor Albert, Milhil – pendamping tenaga kerja Indon dari keuskupan Kuching. “Tenaga kerja Katolik di sini tidak selalu ke gereja atau aktif dalam kegiatan kegerejaan. Saya tahu mereka punya alasan tetapi saya berharap agar saudara-saudari Indon jangan melupakan Tuhan dalam setiap urusan hidup”, himbau pastor Amerika ini memberi dasar biblis.
Dua kali sebulan pastor Albert mengunjungi tenaga kerja Indon. “Kami datangi pabrik/kilang atau tempat kerja lainnya, mengajak bersama merayakan Misa sebagai puncak kegiatan kita orang Katolik. Setiap dua kali sebulan diadakan Misa bersama tenaga kerja”, lanjutnya.
Gereja Kuching tengah berbuat sesuatu untuk orang-orang Indonesia yang bekerja di sana.
Pertemuan sehari, pada Minggu  01 Agustus 2010;  di dahului dengan perayaan Misa bersama yang mengambil tempat di gereja Santo Yosep Katedral Kuching.
Dalam pertemuan persaudaraan ini nampak betul ada upaya untuk meneguhkan baik antar para tenaga kerja sendiri maupun dari para romo.
Para romo di Sintang mengajak para pekerja agar berprinsip: “Ringgit oke doa pun oke. Rezeki jasmani jalan, rezeki rohani pun jalan”. Rezeki akan datang dan menenangkan hati jika kita bekerja di jalan yang benar. Dan itu semua terjadi karena yakin akan kuasa Tuhan dalam doa dan bakti berbakti kita.
Ingat akan Tuhan akan membuat kita tegar menghadapi segalanya.
Tak lupa para romo berpesan agar dalam segala hal para tenaga kerja sungguh menjadi warga negara Indonesia yang baik di tanah orang dengan memperlihatkan sikap yang terpuji. Jika kelakuan kita yang demikian ini terus dijaga maka bukan tidak mungkin kita disegani dan nasib baik akan terus dialami.
Sebagai tali pengikat antar para romo dan tenaga kerja Indonesia dibentuk sebuah wadah dengan nama: Jaringan Informasi/ JI.
Romo yang menangani Justice and peace didaulat untuk mengurusnya bersama dengan ketua tenaga kerja Katolik Kuching.
JI ini diharapkan bisa membantu Gereja Kuching dan pihak Pemerintah Indonesia dalam hal ini Konsultan untuk mengatur langkah yang tepat sasar.
Kerjasama diantara semua pihak terkait ini semoga dapat menolong para tenaga kerja menjalani pekerjaan dan kehidupannya dengan lebih baik.


Hengky Ladjar, Pr.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya