Tantangan hidup menggereja dalam situasi umat yang plural

Rabu, 27 April 2011 16:01:33 Oleh : admin


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  dewasa ini mampu menampilkan sejumlah perubahan di berbagai sisi kehidupan manusia. Berbagai kemajuanpun terjadi dalam aspek-aspek yang menjadi kebutuhan pokok manusia dan membawa banyak tuntutan yang harus dipenuhi oleh manusia sebagai pioner utama dalam pembangunan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mempengaruhi perubahan sikap dan mental manusia sebagai anggota dari suatu kelompok masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan situasi zaman.

Perubahan-perubahan itu merebak masuk dalam kehidupan menggereja di wilayah Nusantara. Kehidupan menggereja diwarnai dengan situasi umat yang plural dan pola hidup yang beraneka ragam;enta  sebagai petani, nelayan, buruh kasar, pengusaha kaya dan pegawai negeri pada instansi tertentu. Pola hidup umat yang majemuk dengan  menunjukkan gaya hidup yang instan”makanan siap saji” dan gaya hidup alamiah dengan “makanan yang diolah sendiri secara alamiah”.

Kemajuan teknologi menjadikan hidup manusia lebih gampang. Gaya hidup instant yang menumbuhkan sikap cari gampang esay going, mentalitas santai, tidak mau repot dan berlama-lama,  tidak mau berkorban, apatis, semua serba cepat dan menunggu hasil jadi. Sedangkan gaya hidup alamiah membutuhkan semangat juang dan kerja keras serta proses yang lama dengan rentang waktu yang panjang untuk memperoleh hasil. Misalnya dulu orang menggunakan sapu tangan dan kini diganti dengan tisu. Prosesnya sekali pakai dan langsung dibuang wasted. Orang beli tisu dan sekali pakai langsung dibuang. Demikian halnya dengan usaha untuk mengolah dan mengkonsumsi makanan.  Orang tidak lagi mengolah makanan dengan proses yang berlama-lama tetapi; sebagai salah satu contoh sarimi cukup diseduh dengan air panas beberapa saat kemudian langsung dikonsumsi.

Mentalitas demikian  menjadi tantangan  kehidupan menggereja di wilayah Nusantara saat ini. Karena pengaruh perkembangan ilmu penegtahuan dan teknologi,  orang cenderung santai, apatis, mau yang praktis, menerima tawaran yang enak dan lebih mengejar usaha ekonomi. Misalnya di wilayah kota gereja keuskupan  Jayapura gejala sosial tersebut amat menyolok. Orang-orang tidak terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani  di persekutuan Komunitas Basis (KOMBAS) dan perayaan ekaristi hari Minggu di Gereja. Kehidupan menggereja cuma menjadi milik kaum ibu dan anak-anak. Realitas menunjukkan bahwa bapa-bapa lebih memilih untuk mengejar dan memajukan usaha ekonominya, santai-santai di rumah sambil mengurus kepentingan lain, lebih senang pergi ke KFC untuk menikmati makanan siap saji dan hiburan band di mall. Lebih jauh lagi ada yang suka bergabung dalam kelompok sambil menikmati minuman keras. Orang tidak lagi menyadari akan pentingnya kegiatan-kegiatan rohani di KOMBAS sebagai satu persekutuan, dan juga perayaan ekaristi  hari Minggu di Gereja.

St. Paulus dalam beberapa surat apostoliknya menyebut Gereja sebagai jemaat-jemaat Kristen yang tersebar di kota-kota seperti Korintus, Efesus, Filipi, Galatia dan Roma. Gereja yang sama itu ada di kota Jakarta, Medan, Pontianak, Makasar,  Kupang, Ambon dan Jayapura. Gereja dengan pola hidup umat sebagai petani di ladang, nelayan, buruh kasar, tukang, pengusaha kaya dan pegawai negeri. Gereja inilah yang kita sebut sebagai Gereja-Gereja Partikular “Ecclesia partikularis” . Gereja particular dengan latar belakang budaya umat yang majemuk. Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM (uskup Jayapura) dalam ulasan suara kegembalaannya menyebut Gereja sebagai sekelompok umat yang berkumpul dalam satu rumah pribadi.
Apa yang diutarakan oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM di atas sebenarnya merujuk pada kisah yang dipraktekkan oleh jemaat perdana. Kelompok jemaat perdana yang merupakan pergerakan Gereja awal  dengan sejumlah kegiatan yang menjadi dinamika persekutuan. Mereka berkumpul untuk berdoa bersama, mendengarkan Firman Tuhan, memecahkan roti secara bergilir dari rumah ke rumah dan mengumpulkan kekayaan mereka untuk dijual dan diberikan kepada orang miskin (bdk. Kis 2: 41-47).

Dalam terjemahan Indonesia kata “jemaat” digunakan untuk menyebut Gereja-gereja partikular dan kumpulan umat. Kumpulan umat baik pria maupun wanita, orang tua, kaum muda dan anak-anak. Sambil berkaca pada arti Gereja dan pengalaman rohani yang dibagun oleh kelompok jemaat perdana; kita dapat memahi bahwa Gereja dan aneka kegiatan rohani tidak hanya menjadi milik ibu-ibu dan anak-anak. Gereja adalah kita semua sebagai umat Kristiani yang disebut Gereja hidup.
Kita sebagai umat Kristiani yang mendiami wilayah Nusantara ini disebut sebagai Gereja yang hidup. Gereja hidup yang tahu mengurus dan membagi-bagi waktu untuk hal-hal jasmani, rekreasi dan rohani. Kita bisa meninggalkan kesibukan ekonomi kita dan urusan pribadi serta menyisahkan waktu selam 2-2,5 jam untuk bertemu dengan Tuhan. Pertemuan dan relasi yang kita bangun dengan Tuhan sebagai penyelenggara hidup kita dapat diwujudkan dengan cara berkumpul bersama dalam KOMBAS untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan, melakukan sharing pengalaman iman serta menghadiri perayaan ekaristi pada hari Minggu dan menyantap Tubuh Kristus “corpus Christi”  dalam pelayanan pastor yang kita lihat sebagai persona Christi. Aneka kegiatan rohani yang disebutkan di atas dapat dilakukan dari rumah ke rumah dalam lingkungan KOMBAS berdasarkan schedule yang telah disusun dan juga pada hari Minggu yang adalah hari Tuhan “dies Domini”.

Lorens  Purek Lolong
Biarawan Fransiskan Papua
Biara Sang Surya
Jl. Sosiri No. 7 Padang Bulan Atas
Abepura-Papua
Telp: (0967) 581844.
 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Aggiornamento" Lainnya