MEMBINA KOMITMEN PRIBADI di TAHUN ORIENTASI ROHANI (TOR)

Rabu, 27 April 2011 14:03:24 Oleh : admin

Ada beberapa macam karya imam melintas di mata saya selama ini, seperti menjadi pastor paroki, dosen seminari, ketua komisi pendidikan dan lain-lain lagi. Untuk dapat menjadi imam lalu mendapat tugas-tugas seperti itu, seseorang tidak bisa lain harus meniti jalan pembinaan yang panjang dan menuntut ketekunan. Jadi imam tidak bisa instan, harus lewat proses.
Demikian juga bagi para calon imam Diosesan. Tahap pembinaan awal untuk para calon imam Diosesan adalah Tahun Orientasi Rohani (TOR), dimana pembinaan karakter adalah inti programnya.
Saat saya sedang mengikuti pembinaan Tahun Orientasi Rohani Santo Markus di Sinaksak, Pematangsiantar yang saat itu dipimpin oleh Romo Alex Dirdjasusanta, SJ. Sebelumnya Romo Alex pernah menjadi pembina TOR di Jakarta. Dengan tajam dan singkat beliau berkata,”TOR adalah program pembinaan komitmen pribadi dalam panggilan.”
Untuk mengetahui lebih lanjut seluk beluk apa yang dikatakan Rm. Alex Dirdjasusanta, SJ berikut wawancara saya dengan beliau.
1. Apa pola Pendidikan yang Romo terapkan dalam pendampingan para frater TOR?
Jawab:
 Ada dua pola pembinaan, yang pertama pola hukum dan yang kedua pola Roh. Saya meminjam kata dan gagasan ini dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus (2Kor 3:3-11). Disana ia mempertentangkan pola pelayanan, yang satu pola pelayanan hukum dan yang lain pola pelayanan Roh. Pola pelayanan hukum itu tertulis dengan tinta atau terukir pada batu. Sedangkan pola pelayanan Roh, tidak tertulis, tetapi dibisikkan oleh Roh ke dalam hati.
Pola pelayanan hukum itu mengandalkan pengawasan dan sanksi dari luar. Pola pelayanan Roh punya kekuatan internal yang disebut komitmen. Ini tidak memerlukan pengawasan dan sanksi, tetapi juga tidak alergis atau menolak pengawasan dan sanksi.
Kedua pola ini oleh Rasul Paulus dipertentangkan sebagai antitesis satu terhadap yang lain. Pada hemat saya, kedua pola tidak perlu dipertentangkan, cukup disubordinasikan, karena keduanya punya fungsinya.
2. Kongkritnya bagaimana Romo?
Jawab:
 Pola pelayanan/hidup/pembinaan menurut hukum itu tertuang dalam macam-macam peraturan dan hukum. Seperti misalnya: Hukum Kanonik Gereja, Peraturan Lalu Lintas, peraturan-peraturan hidup komunitas di seminari.
Semua hukum dan peraturan supaya terjamin pelaksanaannya perlu ada pengawasan dari Gereja (kalau Hukum Kanonik), dari Polisi (kalau peraturan lalu lintas), dari Pamong Disiplin (kalau itu peraturan di seminari). Kalau ada yang melanggar, ada juga sanksinya yang perlu diberitahukan sebelumnya, supaya masing-masing anggota dapat saling mengetahui.
Mengenai pola Roh, tidak terlalu perlu ada kode tertulis, yang lebih penting tujuan dan cara pencapaiannya perlu diresapkan ke dalam hati. Sehingga para anggota memiliki motivasi untuk mewujudkannya dalam kehidupan konkrit sehari-hari.
3. Di TOR. Komitmen macam apa menurut Romo yang harus diresapkan ke dalam hati kami para frater?
Jawab:
Komitmen pribadi mengenai panggilan ke arah imamat.
4. Sebetulnya komitmen itu sendiri apa Romo?
Jawab:
Komitmen adalah daya persuasif  batin untuk melakukan sesuatu, kalau orang melakukannya ada kegembiraan atau kebanggaan dalam hati. Sedangkan kalau orang tidak melaksanakannya ada rasa kalah dan malu dalam hati. Komitmen ini perlu dikembangkan dalam  proses dan  dalam hidup nyata sehari-hari secara sadar. Komitmen bukanlah bakat yang pada masing-masing pribadi normal, ada atau tidak. Sedang komitmen pribadi, diharapkan ada pada setiap pribadi normal.
5. Dalam Rumah/Komunitas TOR ada jadwal dan peraturan yang dirumuskan menjadi pegangan bersama. Lalu, apa fungsi peraturan dan jadwal harian dalam rangka pembinaan komitmen pribadi ini?
Jawab:
Peraturan itu betul dapat membantu menciptakan suatu kebiasaan dalam hati. Misalnya, pada jam meditasi kalau seseorang tidak mengikuti, dia tidak perlu merasa malu tetapi di harapkan jujur mengakui kelemahannya, kalau perlu minta penitensi yang ada sangkut-pautnya dengan peraturan yang dilanggar atau di abaikan.
6. Kadang Romo marah kalau kami melanggar aturan dan sudah diperingatkan masih terulang. Marah ini dalam pola hukum atau pola Roh?
Jawab:
Ini pola hukum, saya sebagai pimpinan TOR mengingatkan kadang dengan tajam dan keras, artinya dengan marah. Biasanya, kemudian saya menerapkan mengapa saya marah.
Ada dua macam kemarahan. Yang pertama, orang marah karena tersinggung per-nya (hatinya). Ada marah lain, bukan karena tersinggung tetapi karena suatu peraturan  dilanggar apalagi tanpa pertanggung jawaban.
Keduanya marah, bisa dengan mata melotot, suara melengking dan bulu rambut berdiri (tentunya kalau punya rambut, ha..ha..ha..). Nampaknya sama, sebetulnya berbeda.
Marah karena tersinggung itu demi “aku” yang marah. Sedangkan marah untuk mengoreksi sesuatu itu demi orang yang dikoreksi. Yang kedua ini biasanya cepat reda, tidak ditandai rasa dendam. Yesus, Tuhan kita seringkali marah dengan tujuan mengoreksi. Misalnya, Dia menghardik Simon yang menolak salib, katanya,”Minggat kau seitan! (pergi kau setan !) “ Ha..ha..ha..(Rm Alex tertawa dengan gaya bahasanya). Sangat keras bukan? Atau kepada orang-orang Farisi Yesus bersabda, “Hai kamu orang munafik, putih di luar tetapi di dalam penuh kebusukan, seperti kuburan..!” Tajam dan menusuk ini. Tetapi dalam rangka komitmen atau pembinaan, suatu kemarahan perlu di refleksi dan diterangkan bersama supaya pola hukum di arahkan ke pola Roh.
7. Sekali-kali Romo marah terhadap hal yang nampaknya kecil, tetapi yang kena marah seperti disambar petir?
Jawab:
Kapan itu? (pernahlah pokoknya Romo…)
Di sini, aku sengaja menjadikan perkara kecil itu menjadi kasus. Artinya menjadi batu ujian, sehingga frater yang bersangkutan harus memilih melaksanakan peringatan atau memilih mundur (?@$*+/). Ini suatu cara membuat suatu peristiwa menjadi kasus tajam yang memaksa orang memilih. Memilih ini adalah suatu langkah komitmen. Ini sesuatu yang saya pelajari dari Effectif Leadership. Kadang cara ini menjadi efektif apabila waktu terbatas dan perlu dicapai suatu kemantapan komitmen yang diragukan adanya, ketika  orang melalaikan tugas dan tidak menghiraukan peringatan komitmennya.
Cara ini kadang-kadang saya pilih khususnya terhadap frater yang kuragukan komitmennya, padahal waktu pembinaan sudah sangat singkat (Tahun Orientasi Rohani berlangsung selama satu tahun). Untuk ini perlu pengalaman dan ketegaran hati.
8. Mengapa komitmen itu sangat ditekankan dalam pendampingan para frater?
Jawab:
Panggilan menuju imamat itu adalah panggilan pribadi. Maka, tidak cukup diikuti hanya karena dukungan atau penerimaan. Dukungan atau penerimaan itu baik, selalu menyenangkan, kadang berguna, tidak pernah perlu.
Sebagai ilustrasi; kalau saya makan sate, sujan (sunduk-tusuk) itu menyenangkan, kadang berguna, meskipun tanpa tusuk itu, sate juga bisa dimakan. Maka, daging ayam atau apapun itu yang perlu, tusuk dan tisyu itu menyenangkan dan berguna saja.
Demikianlah dukungan dari orang tua atau penerimaan dari staff seminari itu tak pernah perlu, yang perlu adalah komitmen pribadi. Maka didukung sangat kuat oleh keluarga atau diterima sangat baik oleh staff, kalau orangnya sendiri tidak punya komitmen, ia tidak akan terus juga.
Sekali lagi, komitmen adalah daya persuasif batin, bahwa aku dipanggil dan dipilih oleh Allah dan aku mau menanggapinya dengan baik.
9. Apa tujuan dan manfaat dari pembinaan komitmen itu?
Jawab:
Tujuannya adalah meletakkan tanggung jawab pada pribadi frater itu sendiri. Dan dalam tanggung jawab, ada kegembiraan dan ada beban seperti biasa. Sedangkan manfaatnya adalah membuat orang tidak tergantung pada orang lain (meskipun tidak menolak dukungan atau penerimaan, tetapi tidak tergantung pada kedua hal itu). Maka, dengan kata lain buah komitmen adalah inner-liberty atau kemerdekaan batin di jalan panggilan.
10.  Lalu apa ada kendala dan bagaimana mengatasinya Romo?
Jawab:
Kendala selalu ada, misalnya ada frater yang tidak terbiasa di dalam formationya untuk di beri tanggung jawab dan komitmen pribadi. Banyak orang muda harus belajar hidup dan berkarya dengan komitmen pribadi, bukan dengan ketaatan pada peraturan dan hukum saja.
Dalam pembinaan, ada hal-hal yang informatif dan ada pula yang formatif. Di Tahun Rohani, yang formatif lebih penting dari pada yang informatife. Konkritnya, pelajaran-pelajaran dapat dikalahkan oleh latihan-latihan, seperti live-in pastoral dan social di TOR ini.

Penulis: Fr. Fransiskus Arisyanto

Mendalami tentang pembinaan komitmen bagi para frater di Tahun Orientasi Rohani ini tidak serta merta selesai sampai di sini. Pembahasan demi pembahasan yang tentunya masih banyak lagi membuat halaman ini tidak akan cukup untuk menjadi tempat belajar dari Romo Alex Dirdjasusanta, SJ. Jadi sekarang, diperlukan komitmen pribadi untuk mau terus belajar, menjadi daya yang perlu dikembangkan. Kami belajar dari Romo Alex Dirdjasusanta, SJ., menanamkan komitmen dan terus memupuknya sampai berbuah masak, dengan latihan-latihan harian. Asyik itu lho !

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Aggiornamento" Lainnya