Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

GOD’S MAN: Orang-orang Kepunyaan Allah

Jum`at, 22 Januari 2010 07:25:06 Oleh : admin

Pada hari Minggu, (17/01) pukul 09.00 WIT, sekitar belasan orang dengan berpakaian adat asal suku Hubula-Lembah Baliem (suku di pelosok Jayapura – Papua) menjadi pusat perhatian umat. Mereka menari sambil bernyanyi pada perarakan pentahbisan empat orang calon imam Fransiskan. Keempat calon imam tersebut, yaitu diakon Bartol Uropmabin OFM, diakon Aventinus Jenaru OFM, diakon Silvinus Soter Reyaan OFM dan diakon Broery Renyaan Fadirubun OFM. Sebelum perarakan, keempat diakon diserahkan oleh pihak keluarga kepada pihak Gereja yang diwakili oleh Mgr. Leo Laba Ladjar OFM di dalam kantor KONI. Setelah itu, dilanjutkan dengan perarakan dari kantor KONI menuju ke Gedung Olah Raga (GOR) Cendrawasih yang berjarak sekitar 50 meter. Urutan perarakannya, yaitu kelompok penari, misdinar, para imam, keempat orang diakon yang didampingi oleh keluarganya, dua imam konselebran dan Mgr. Leo Laba Ladjar OFM. Ketika memasuki GOR, semua umat diajak untuk berdiri dan mengarahkan pandangan ke arah rombongan calon imam baru. Ribuan mata yang memadati gedung tersebut, menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira sambil menyanyikan lagu pembukaan untuk mengawali misa syukur tahbisan itu. Yang menjadi konselebran, yakni pastor Gabriel Ngga OFM dan pastor Hilarius Pekey Pr.
Misa syukur ini dihadiri pula oleh Gubernur Papua (Barnabas Suebu), Ketua Majelis Rakyat Papua (Agus Alue Alua), para suster, frater dan tak terkecuali umat Katolik yang membanjiri GOR Cendrawasih yang berjumlah sekitar 1500-an orang. Misa syukur berlangsung sangat meriah dan penuh kultis karena dimeriahkan oleh koor dari Paroki APO (salah satu paroki yang ada di keuskupan Jayapura), Koor Paguyuban dari Masyarakat suku Kei (suku di Maluku) dan tarian persembahan dari suku Ngalum (suku di pelosok Jayapura). Mereka menggunakan pakaian adat yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Perayaan misa syukur atas tahbisan imamat ini dengan mengangkat tema: “ALLAHKU DAN SEGALAKU.”
 Dalam khotbahnya, Mgr. Leo mengatakan bahwa dalam tahun imamat ini ada banyak publikasi mengenai imam. Hidupnya beraneka ragam. Salah satu contoh, yaitu pastor Yohanes Maria Vianney. Ia dijuluki sebagai God’s Man (orang-orang kepunyaan Allah). Ia adalah salah satu dari orang-orang kepunyaan Allah. Dia sangat setia memimpin ibadat harian, misa harian, adorasi, dan memberi pengakuan dosa berjam-jam lamanya. Apakah hidup seperti ini menarik bagi calon imam dan imam atau tidak? Mungkin lebih menarik jika membawa hand-phone ke mana-mana daripada membawa buku brevir? Mgr. Leo mengajukan sebuah pertanyaan refleksif, yaitu “apa yang menarik dari figur Vianney?” Hal yang menarik dari figur Vianney, yakni “ada sumber kekuatan dari Tuhan. Tuhan menangkap dia dan memilih dia untuk tidak hidup bagi dirinya sendiri tetapi bagi Allah, jelasnya..
Lebih lanjut Mgr. Leo menjelaskan bahwa kita masih berada dalam suasana Tuhan Menampakan KemulianNya, yaitu sejak Pesta Tiga Raja, Pesta Yesus Dibaptis dan pada hari ini dalam bacaan Injil Yohanes, Yesus mengubah air menjadi anggur. Ketiga peristiwa ini menyatu dalam liturgi. Tiga minggu berturut-turut, Tuhan menampakan kemulianNya. Mujizat air menjadi anggur adalah tanda pertama yang dibuat oleh Yesus, maka murid-muridNya melihat dan menjadi percaya. Di sini ada perjumpaan dan disambut dengan kepercayaan murid-murid terhadap Yesus. Mgr. Leo menegaskan bahwa pada saat Yesus bergantung di kayu salib, di situlah letak kemuliaan Tuhan yang paling tinggi. Pertanyaannya, entah kepada calon imam, imam dan kita semua sebagai pengikut Kristus. Apakah kita sanggup mengikuti Dia dalam hidupNya atau tidak? Apakah kita hanya berhenti pada perjumpaan pertama atau pada perjumpaan yang tertinggi saat Yesus disalibkan? Kemudian Mgr. Leo mengarahkan khotbahnya kepada keempat orang calon imam yang akan ditahbiskan. Pada awalnya kalian disambut meriah. Hatimu akan berbunga-bunga  berkat anggur baru dari Tuhan. Ini baru tanda awal. Oleh karena itu, biarkanlah Dia menuntun jalan hidupmu pada saat Dia menyatakan kemulianNya berupa salib, yaitu dalam kehidupan umat yang menderita, miskin, sakit-sakit, kekerasan rumah tangga, dll. Maka para saudara diharapkan berjumpa dengan Dia dalam peristiwa yang pahit, bukan saja dalam atau lewat anggur baru sebab kalian adalah God’s Man, (orang-orang kepunyaan Allah yang akan melayani umatNya), tandasnya.
Selesai khotbah, dilanjutkan dengan penyelidikan terhadap keempat diakon oleh Mgr. Leo dan disaksikan oleh ribuan umat yang hadir. Kemudian diteruskan dengan pengucapan janji setia kepada uskup yang ditandai dengan peletakkan tangan para diakon yang akan ditahbiskan menjadi imam. Mereka meletakan tangan di atas tangan uskup yang sedang terbuka. Mereka melakukannya secara bergantian. Lalu uskup mengajak umat sekalian untuk berdoa dan dilanjutkan dengan litani para kudus. Sementara para diakon tidur berbaris sambil terpelungkup di depan altar. Setelah itu, penumpangan tangan oleh uskup dan para imam yang hadir sebagai simbol akan pemberian anugerah dan karunia roh dari Allah. Liturgi dilanjutkan dengan pemberian stola dan kasula oleh uskup kepada keempat diakon untuk dipakai. Kemudian para imam berlutut di hadapan uskup dan mendapat pengurapan minyak Krisma. Akhirnya mereka secara resmi diakui oleh Gereja Katolik dan diterima sebagai imam yang baru diurapi.
Tahbisan pada hari ini memang sangat luar biasa. Mengapa demikian? Karena tahbisan ini merupakan tahbisan terbanyak sejak 75 tahun Fransiskan berkarya di tanah Papua. Keempat orang imam yang baru ditahbiskan itu memiliki motto yang berbeda. Akan tetapi, jika dirangkai maka memiliki makna yang sangat kaya bagi pelayanan dan pengabdian mereka kepada umat yang ada di tanah Papua.. P. Bartol Uropmabin OFM dengan mottonya: “Ya Bapa ke dalam tanganMu kuserahkan diriku.” (Luk 23:46) akan ditugaskan sebagai Magister Novis di Biara St. Antonius Sentani – Papua. P. Aventinus Jenaru OFM dengan mottonya: “Jadilah padaku menurut perkataanMu.” (Luk 1:38) akan menjadi pastor Paroki St. Stefanus Sempan – Keuskupan Timika. P. Silvinus Soter Reyaan OFM dengan mottonya: “Allah adalah kasih” (I Yoh 4:8c) akan ditugaskan sebagai Magister Postulan di Biara Wenewolok Wamena – Papua dan P. Broery Renyaan Fadirubun OFM dengan mottonya: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” (Yoh 1:39) akan mendapat tugas sebagai pastor Paroki Bade – Keuskupan Agung Merauke. Seusai misa syukur, rombongan imam baru diarak keluar menuju ke kantor KONI untuk menganti pakaian liturginya. Beberapa saat kemudian, mereka diarak masuk ke GOR dengan tarian yang berasal dari suku Manggarai (suku di Flores). Acara dilanjutkan dengan resepsi dan makan bersama.

 

Oleh: Luis Elma

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Aggiornamento" Lainnya