Pendidikan Karakter

Jum`at, 30 Oktober 2009 08:58:28 Oleh : admin

Tema Pertemuan:
Pendidikan Karakter dan Multikultural
Pendidikan karakter landasan bagi pencapaian akademik yang berkelanjutan.
Dikotomi semu antara pendidikan karakter dan prestasi akademik menyesatkan esensi dan tujuan pendidikan.

Tantangan dalam Pendidikan Demokrasi di Sekolah Formal
Formator: Teladan adalah formator yang hadir sebagai  teman-sahabat dan menjadi teladan bagi seminaris

Melatih subyek bina untuk punya kualitas reflektif yang mendalam 

Nilai  dipahami sebagai sesuatu yang dikejar, diraih dipeluk dan diperjuangkan
Nilai yang perlu diperjuangakan:       
Kejujuran, ketekunan, keterbukaan dan kesetiaan
Dalam hubungannya dengan seminaris diperhatikan :
Anak berhadapan dengan berbagai macam pilihan (dalam konteks jaman internet-kurikulum-budaya), sehingga mereka perlu belajar untuk memilih dan mengusahakan agar nilai yang dipilih itu menjadi sebuah keyakinan

Kami, para pembina Seminari Menengah Regio Jawa-Bali telah menyelenggarakan pertemuan tahunan di Pondok Betlehem, Jedong-Malang, Jawa Timur, pada tanggal 1-3 Oktober 2009. Dalam pertemuan tersebut kami menemukan beberapa hal yang berkaitan dengan formatio di seminari menengah, sebagai berikut:

A.    Konteks dan Keprihatinan



  1. Seminaris sebagai seorang remaja hidup dalam situasi pergeseran tata nilai. Nilai-nilai kejujuran, ketekunan, kesetiaan, keterbukaan, dan tanggung jawab menjadi kabur.

  2. Kehidupan modern menawarkan banyak pilihan dan kenyamanan, seperti: having fun, chatting, facebook, internet, hp, ”budaya mall”, shopping, dugem, dll.

  3. Kurikulum sekolah dan kegiatan seminari begitu banyak sehingga membebani.

  4. Lingkungan sosial ditandai dengan ketidakjujuran, seperti: menyontek, mentalitas jalan pintas seperti copy-paste.

  5. Formator sebagai pembina, pembimbing, gembala, kurang memberi teladan dan ”hati”.



B.    Berangkat dari konteks dan keprihatinan di atas dan setelah mendapatkan masukan dari Prof. Dr. Anita Lie tentang “Pendidikan Karakter” serta berefleksi secara aktif dalam seluruh dinamika pertemuan, kami menyadari pentingnya penerapan refleksi dan discerment pribadi maupun bersama terhadap nilai-nilai yang ada, perlunya tata ulang kurikulum dan kegiatan seminari,  serta sinergi antara formator dan formandi.

C.    Kami  menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:



  1. Uskup dimohon mengawal proses pendidikan nilai di seminari.

  2. Sekretaris Komisi Seminari KWI hendaknya menyelenggarakan pertemuan para formator, khususnya praefect spiritual seminari untuk merumuskan bentuk refleksi dan pembinaan bagi para seminaris; dan menyelenggarakan penataan kurikulum yang proposional dan tepat guna bagi para seminaris.

  3. Formator perlu mengupayakan intensitas kehadiran, sapaan dan pendampingan bagi para seminaris secara sinergis dan kontinyu.

  4. Orang tua seminaris hendaknya memperhatikan proses pendidikan nilai di seminari. 


D. Kami merencanakan pertemuan mendatang sebagai berikut:



  1. Pertemuan para pembina seminari regio Jawa-Bali berikutnya akan diselenggarakan di  Garum, Jawa Timur tanggal 1-3 Oktober 2010 dengan tema: “pencitraan imamat generasi millenials.”

  2. Pertemuan seminaris seminari regio Jawa-Bali: tuan rumah Seminari Mertoyudan, Juni 2011, seminggu setelah penerimaan rapor.



Catatan:



  1. Koordinator regio mengingatkan rektor seminari untuk membuat evaluasi dan refleksi tentang tindak lanjut hasil-hasil pertemuan regio dan pembinaan tahunan.

  2. Rektor seminari membuat evaluasi  dan refleksi tentang tindak lanjut rekomendasi pertemuan regio dan pembinaan para seminaris pada bulan Agustus 2010 untuk dibagikan ke seminari-seminari.


 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya