Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

Tahapan Pembentukan Imamat

Kamis, 30 Juli 2009 09:34:21 Oleh : admin

Prinsip dasar pembentukan imamat mengatakan bahwa, pembentukan imamat merupakan proses yang progresif. Hal ini memiliki dimensi temporal. Seorang pemuda yang masuk ke seminari, sedikit demi sedikit mengalami pertumbuhan dan kedewasaan pribadi. Secara perlahan ia mengubah dirinya sesuai dengan gambaran imam yang ideal, secara bertahap mengidentifikasi dirinya seperti Kristus  Sang Imam. Ini berarti bahwa proses tersebut telah diadaptasi dan diaplikasikan ke dalam proses temporer.
    Proses ini adalah satu dan berlangsung terus menerus, seperti aliran air sungai yang tak terbendung dan terasa mengalir turun menuju ke lembah. Meski demikian, tujuan untuk mempelajari hal ini adalah kemungkinan dan kebaikan untuk  membedakan secara pasti penghalang waktu yang dapat dikenali dari ciri-ciri khususnya. Dengan demikian kita membicarakan tahapan-tahapan yang berbeda dari pembentukan imamat.
    Penetapan area pemisahan dari tahapan pembentukan imamat ini ditentukan oleh beragam faktor: usia dan tahapan pengembangan seminaris, tingkatan  dan jenis studi yang dipelajari, dan makna tiap tahapan yang berhubungan dengan persiapan imam di masa depan.
    Pertama kita bahas tentang “discernment” panggilan hidup. Lalu kita akan mengomentari  beberapa karakteristik dari seminari menengah, dimana para pemuda mulai mendekati jalan untuk menjadi imam; pada pendahuluan/ pengantar  (propaedeutic) untuk persiapan masuk ke seminari tinggi; pada filsafat dan teologi, tanpa  menghabiskan banyak waktu karena kita sudah menuliskan acuan mengenai hal ini, dan akhirnya kita akan mempertimbangkan secara singkat tentang proses pembentukan secara berkelanjutan yang mencakup seluruh kehidupan para imam.

Discernment Panggilan Imamat

Allah Memanggil, Gereja Menanggapi

Menjadi imam adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan. Tak seorangpun dapat mengatakan pada-Nya siapa yang dipanggil maupun yang tidak. Pada prinsipnya pintu seminari terbuka bagi siapa saja yang merasa terpanggil. Tidak ada diskriminasi atau seleksi yang sewenang-wenang. Imamat adalah perutusan gereja; dengan demikian sesuatu yang berhubungan dengan Gereja haruslah “mengikat dan melepas” ( bdk.Mat 18:18 ). Tak seorangpun yang mengetuk pintu seminari memerlukan suatu panggilan. Kita diwajibkan untuk menjalankan penglihatan tersebut.
    Secara esensial , keseluruhan periode pembentukan adalah periode ketajaman, keduanya memegang peranan dalam pembentukan dan  kepentingan calon/seminaris itu sendiri. Hal ini benar-benar istimewa pada awalnya. Sebelum masuk ke seminari, penting bagi mereka untuk menganalisis dengan hati-hati apa yang menjadi panggilan hidupnya.
    Adalah penting untuk mengetahui sedari awal tentang discerment panggilan yang menipu terutama mengenai pemilihan calon yang layak untuk masuk  ke seminari. Dalam hal ini tak ada rasa kagum baginya bila ia masuk ke seminari hanya mengandalkan tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan bahwa ia terpanggil.Hal ini menjadi tidak adil dengan membawa sikap yang dangkal terhadap proses masuk ke seminari, jika pada akhirnya mengatakan pada calon seminaris bahwa seminari bukanlah tempat baginya. Ada satu pengalaman, menghambat seseorang masuk ke seminari ini berarti mendukung karirnya sebagai awam, merupakan hal yang sangat merusak.
    Peduli pada calon lain  adalah alasan yang lain untuk  mencermati ketajaman panggilan tersebut. Seminaris yang merasa tidak pada tempatnya dan tidak teridentifikasi oleh panggilan imamatnya,  dapat menjadi unsur negatif di dalam kehidupan seminari. Secara  signifikan jumlah yang bersikap diam, atau seminaris yang bersikap ragu atau siapapun yang kurang /tidak memiliki kualitas yang dibutuhkan, membuat lingkungan perkembangan positif seperti yang telah kita bicarakan pada bab sebelumnya hampir mustahil untuk dapat dicapai.
    Secara serius dan penuh perhatian, ketajaman panggilan adalah suatu kelayakan. Bahkan saat panggilan terlihat langka, kita membutuhkan pemuda-pemuda dengan panggilan hidup imamat , bukan pada mereka yang mulai tanpa bekal panggilan di jalur yang semestinya, karena hal ini bukan sekadar pertanyaan yang semata-mata untuk memenuhi kekosongan dalam lembaga manusiawi namun untuk menerima siapapun yang merasa dipanggil oleh Tuhan. Pertanyaan dasar yang terlontar adalah,”Betulkah dia yang sungguh-sungguh telah dipilih oleh Tuhan?”

Panduan Untuk Memahami Ketajaman Panggilan Hidup Secara Tepat

    Hanya Tuhan yang mengetahui jawaban dari pertanyaan awal ini. Tak ada sistem yang mudah  untuk dapat menemukan kehadiran panggilan imamat yang sempurna. Untuk alasan ini, doa merupakan tugas pertama bagi siapapun yang mempunyai tanggungjawab yang sulit untuk dapat masuk dalam pusat pembentukan imamat. Mereka harus ditanya dengan rendah hati tentang cahaya Roh Tuhan  yang menerangi akal  dan pikiran para pemuda yang mencari jalan masuk ke seminari.
    Meskipun  ada beberapa kriteria yang tersimpan  di benak kita dalam rangka menemukan kehendak Tuhan sejauh ini secara manusiawi hal itu diperbolehkan. Pada tiap kasus individu , sesuai dengan waktu dan tempat , terdapat beberapa faktor yang spesifik  dan kongkret  tersimpan dalam pikiran , namun kita dapat juga membicarakan beberapa kriteria umum yang diperoleh berdasarkan panggilan dan perutusan imamat., dan dari permintaan betapa pentingnya pembentukan untuk menempatkan para calon  pada panggilan imamatnya.
    Kita dapat mengelompokkan kriteria tersebut di seputar dua pendapat yang sangat berhubungan , yaitu: kesesuaian dari para calon dan kehadiran nyata dari suatu panggilan ilahi.

Kesesuaian Dari Para Calon

    Tidak ada alternatif/pilihan: jika seseorang tidak cocok bagi kehidupan imamat Tuhan pasti tidak akan memanggilnya. Tuhan tidak akan bertentangan dengan Dirinya sendiri. Beberapa hal pokok kemampuan yang harus dimiliki calon imam:

1.    Pengetahuan yang Dimiliki Para Calon

Hal pertama yang dilakukan adalah mempelajari tipe orang-orang yang masuk ke seminari. Caranya, seseorang yang berwenang dalam penerimaan calon seminaris wajib meluangkan waktu untuk berbicara dengan para calon, bila memungkinkan hal itu dapat dilakukan  pada beberapa kesempatan. Mengenal keluarga dan lingkungan dimana calon seminaris  berasal akan sangat membantu. Saat itu, beberapa hal dapat terungkap. Mengenali para calon berarti mengetahui latar belakangnya: pola asuh dan pendidikan, spiritualitas dan perjalanan hidup manusiawinya, kejadian masa lalu atau situasi yang dapat berpengaruh pada masa depannya…
    Psikologi dapat membantu dalam area yang sedang kita bahas. Hal ini tidak akan terlihat berlebihan untuk mensyaratkan, jika mungkin, diadakan test psikologi secara teliti sebelum memutuskan secara pasti siapa yang berhak masuk ke seminari. Para psikolog yang melaksanakan dan menginterpretasikan hasil uji tersebut tidak hanya profesional dan mampu di bidangnya namun juga harus bisa menunjukkan pengetahuan dan penghargaan  dari panggilan imamat. Jika ia seorang imam, itu lebih baik. Jika terdapat  kesangsian atau kasus-kasus yang sulit sebaiknya dilanjutkan wawancara dengan psikolog, hal ini untuk memperlihatkan bahwa calon  memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
    Ijin masuk bagi calon seminaris tidak akan pernah menjadi hal yang terburu-buru. Waktu diperlukan  untuk mengenali  para calon dan mereka juga butuh waktu untuk mengenali dirinya sendiri dan menetapkan langkah yang akan mereka ambil. Pada kesempatan ini kita dapat memperpanjang waktu selama pendidikan di seminari kecil. Bagi yang lain, hal ini memantapkan panggilan hidup  dibawah bimbingan imam yang mereka kenal atau dengan mengadakan kunjungan ke seminari. Di beberapa tempat , seminar tentang panggilan terbukti berguna dalam memahami ketajaman panggilan hidup.

2.    Kesehatan Mental dan Fisik

Pertanyaan tentang kesesuaian bagi panggilan imam melibatkan bermacam aspek manusia. Di tempat pertama, kesehatan fisik yang memadai diperlukan untuk mampu bertahan dari tuntutan hidup di seminari dan dapat bekerja sama dengan rajin sebagai pelayan di ladang anggur Tuhan. Hal ini adalah pengecualian khusus, namun merupakan hal yang sungguh luar biasa dan mengandung alasan yang kuat.
    Kesesuaian secara psikologis lebih sulit untuk di evaluasi, meski hal ini tidak begitu menentukan. Bidang yang terbatas dari diskusi yang baru-baru ini kita lakukan, menjadi penghalang bagi kita untuk mempelajari detil-detil  yang berkenaan dengan beragam aspek  yang terlibat dalam area ini. Kita dapat meyakinkan, bahwa, kesehatan mental  adalah prasyarat adanya panggilan hidup. Imam terpanggil untuk memimpin dan membimbing orang lain. Dalam hal ini , kita dapat menjabarkan pertanyaan rasul Paulus dalam surat pertamanya pada Timotius : “Jika seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri bagaimanakah ia dapat mengurus jemaat Allah?’ ( 1 Tim 3:5 ).
    Suatu saat seseorang dapat berubah secara psikologis, meski hal itu normal, namun hal itu menunjukkan  tanda-tanda kelemahan, hambatan atau ketidakstabilan. Hal ini tidak selalu bisa dicermati  dengan segera dan diputuskan apakan calon tersebut sesuai atau tidak. Kebijaksanaan, akal sehat, pengalaman, dan waktu yang akan memberikan jawaban terbaik.
    Penyakit dan keraguan lebih mudah untuk diperhatikan. Jika menghadapi kasus kejiwaan, keputusannya sangat jelas: hal itu tidak mungkin dapat sembuh; pengabaian atau pura-pura hal itu tidak terjadi akan menipu kita sendiri dan calon yang bersangkutan. Bila kita temukan gejala penyakit syaraf, dianjurkan untuk mengadakan test untuk mengambil kesimpulan yang tepat. Dalam hal ini, tidak ada tempat bagi suatu kepicikan—hal ini membawa konsekuensi yang serius. Jika merasa ragu-ragu, berkonsultasi dengan ahlinya sangat dianjurkan.

3.    Beberapa Kebajikan Fundamental

Kita tak dapat berharap bahwa siapapun yang masuk ke seminari telah memiliki kebajikan dan kualitas sebagai seorang imam yang ideal. Jika hal itu terjadi ,maka hal itu tidak dibutuhkan oleh para seminaris. Meski demikian, pembentukan imamat mensyaratkan kualitas manusiawi yang memadai dan dasar iman kristiani untuk di bangun.Tak peduli, meski bukan para calon yang memiliki kebajikan sebagai imam yang baik, kita mempunyai kemampuan untuk meperolehnya.
    Tentu saja terdapat kebajikan dan kualitas khusus yang harus dimiliki saat seorang pemuda menjalani panggilan imamatnya, setidaknya sampai batas tertentu, dalam rangka mendukung keberhasilan tahbisan. Contohnya adalah ketulusan. Orang yang tidak jujur dan penuh kepalsuan akan mengalami kesulitan dalam menjalani proses pendewasaan yang semestinya. Ia mungkin mampu mematuhi norma-norma eksternal pada saat ia diamati, namun ia tidak akan pernah memahami prinsip-prinsip pembentukan pribadi. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan dirinya untuk hidup dalam komunitas dan bekerjasama dengan orang lain. Sama halnya, bila seseorang mempunyai perangai dan pola asuh tertentu yang mengakibatkan ia sama sekali tidak mampu hidup bersama orang lain, berdialog, bekerja dalam tim, hingga sulit untuk membayangkan bagaimana ia berhasil membentuk dirinya dalam lingkungan komunitas , dan setidaknya membuat dirinya dapat diterima orang lain dalam rangka melaksanakan tugas perutusan sebagai imam di masa depan.
    Bersama dengan pembentukan dasar manusiawi, identitas spiritual calon seminaris juga harus dibangun. Setidaknya pengetahuan agama dan praktek religius sangat diperlukan, dan kemampuan untuk hidup dalam rahmat. Seorang imam adalah anak Allah, seorang pelayan yang menuntun manusia menuju hidup ilahi  dan membawanya kembali melalui pengampunan dosa jika mereka berbuat dosa / sesat jalan hidupnya. Jika seseorang dosanya sudah berakar kuat dan tampaknya mustahil untuk dapat diatasi, maka perlu dipikirkan dengan serius sebelum membiarkan dia untuk meneruskan langkahnya. Kita tidak boleh meragukan kekuatan Tuhan, namun kita juga tidak boleh mencobaiNya.

 4. Kapasitas Intelektual

Para pembimbing juga harus menganalisis kapasitas intelektual para calon. Disebut sebagai guru dan pembimbing, ia harus dengan cermat mempersiapkan area yang mensyaratkan pengabdian akademik, seperti filsafat dan teologi. Walaupun dalam sejarah Gereja dibicarakan tentang kepandaian para imam kudus  yang beroleh karunia intelektual, kita tidak akan menganggap remeh hal itu. Merupakan suatu ketidakadilan jika menerima seseorang yang pada akhirnya merasa frustasi sebelum mengalami kesulitan dalam menempuh studi imamatnya, atau mengatakan untuk meninggallkan seminari karena ia dianggap tak mampu menyelesaikan studinya.
Jika ia telah menyelesaikan studinya, biasanya mereka masuk ke seminari tinggi yang memiliki kesamaan pembentukan manusiawi dan keilmuan untuk mempersiapkan mereka masuk ke wilayah pendidikan yang lebih tinggi.    

5.    Tidak Mengalami Kesulitan Perihal Hukum Kanonik

Parameter terakhir yang penting  untuk mengukur kesesuaian para calon adalah dengan  memperhatikan apakah mereka mengalami kesulitan secara terus menerus atau hanya mengalami sedikit kesulitan dalam rangka memahami hukum kanonik. Hal ini menjadi tidak berguna  dan tidak bertanggungjawab jika mengijinkan seseorang masuk ke seminari  sedangkan ia tak dapat mencapai tujuan  yang telah ditetapkan.

6.    Keberadaan Panggilan Ilahi

Hal ini tidak cukup untuk memastikan bahwa seseorang yang memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk masuk ke seminari; kita harus melihat bahwa ia mempunyai “panggilan”. Di sini kita tidak menunjuk “panggilan” sebagai kecenderungan manusia  maupun suatu profesi/pekerjaan yang lain. Kita sebut dengan tegas disini : suatu panggilan ilahi yang nyata dan pribadi.
Hal ini tak mudah untuk dicermati. Faktanya hal ini jauh lebih sulit  daripada mencermati kesesuaian para calon secara subjektif. Disini kita berada sebelum memahami misteri  manusia; disinilah kita berdiri sebelum memahami misteri Allah.

7.    Intensi yang Benar

Hal pertama yang harus diingat adalah intensi yang memotivasi  seseorang untuk mencari jalan masuk. Apakah ia merasa terpanggil atau atau sesuatu yang mendorongnya?
Keputusan yang diambil haruslah secara sadar dan bebas. Kewaspadaan dibutuhkan bila calon berada di bawah tekanan, baik secara internal maupun eksternal. Jika permohonannya tidak secara sukarela , maka calon tersebut tidak diijinkan untuk melanjutkan .
Direktur penerimaan seharusnya memastikan agar para calon memahami, setidaknya hal-hal umum, apa dan bagaimana panggilan dan cara hidup imamat dan tepatnya apa yang mereka butuhkan. Sebagai tambahan, direktur penerimaan harus dapat melihat bahwa mereka masuk ke seminari bukan karena terpengaruh ( misalnya oleh saudara ) atau didorong oleh alasan lain  seperti patah hati, ingin melarikan diri dari dunia, takut menghadapi kerasnya hidup, dsb.
Ada beberapa kasus  bahwa seseorang masuk ke seminari  hanya untuk memperoleh keuntungan akademik. Perhatikan, yang harus diingat ketika orangtua secara gamblang memaksa putra mereka masuk ke seminari. Mereka hanya tertarik bahwa putra mereka akan memperoleh pendidikan murah namun berkualitas. Dengan mengijinkan ia masuk , dalam kasus ini, akan mengalahkan tujuan seminari  dan berkompromi untuk sanggup membentuk mereka supaya benar-benar memikirkan panggilan imamatnya.Ini membuktikan hal tersebut akan merusak diri mereka sendiri karena ia hidup dalam kebohongan , dilingkungan dimana ia tidak terpanggil  dan ia tidak dapat mengenalinya.

8.    Suara Tuhan

            Saran yang sangat dibutuhkan untuk para seminaris supaya berdoa secara intensif, hal ini dimaksudkan juga untuk menguji minat dan motivasi mereka.Dengan cara ini kita dapat mendeteksi adanya kemungkinan sugesti pribadi, tekanan dari luar, dsb. Hal ini akan membantu para seminaris  untuk semakin memperdalam kehidupan doanya dan memperoleh pengalaman untuk mendengarkan suara Tuhan. Praktek tersebut terbukti dapat menentukan kehidupan seseorang untuk berhenti sebagai seorang seminaris atau imam. Sesekali Tuhan mengijinkan dirinya untuk mendengar secara lebih dalam , ini merupakan saat intim dan langsung. Pada kesempatan lain ia akan berbicara mengenai hal-hal yang penting atau hal-hal yang sepele. Suara Tuhan bergema dengan penuh semangat  dan terus menerus  di dalam hati para pemuda. Suara tersebut acapkali datang seperti angin  yang lembut hampir tak terasa (bdk 1 K 19:12b ). Semangat itu  membuat mereka mengalami cinta Kristus sebagai suatu hal yang bermanfaat. Membuat orang lain menyadari bahwa panenan melimpah namun pekerja sedikit. Secara sederhana hal ini akan mengundang orang lain untuk mendukung panggilannya. Beberapa pemuda yang masuk ke seminari sangat antusias dengan panggilannya, sebagian lebih suka melawan panggilan ilahi tersebut, namun semua tunduk pada yang Kuasa. Beberapa orang melihat panggilannya dengan jelas. Beberapa terasa samar dam meragukan apakah mereka benar-benar terpanggil…
    Kita tidak mencari kepastian yang absolute/mutlak dalam area ini atau mencari pembuktian. Cahaya yang redup dari suatu panggilan membuat kita berkata, ,”mari kita lihat”. Seperti telah dikatakan sebelumnya , tentang keseluruhan periode pembentukan seminaris khususnya pada tahapan awal , yang merupakan saat untuk mengasah ketajaman panggilan. Bila Tuhan tidak memanggil, namun mengijinkan banyak pemuda untuk memulai perjalanan tersebut., hal ini menjadi suatu alasan tersendiri. Para pemuda yang berusaha menyerahkan seluruh kehendaknya tidak akan pernah salah di mata Tuhan.

Rm. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya