Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

PESAN BAPA SUCI UNTUK HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-49

Jum`at, 2 Maret 2012 15:57:45 Oleh : admin

PESAN BAPA SUCI

UNTUK HARI DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-49

Minggu Paskah IV, 29 April 2012

 

Tema:

PANGGILAN SEBAGAI ANUGERAH KASIH ALLAH

 

 

Saudara-saudari yang terkasih.

Hari Doa Panggilan Sedunia Ke-49 yang akan dirayakan pada tanggal 29 April 2012, Hari Minggu Paska IV, mendorong kita untuk merenungkan tema: PANGGILAN SEBAGAI ANUGERAH KASIH ALLAH.

Sumber segala karunia yang sempurna adalah Allah. Dia-lah Kasih itu sendiri Deus Caritas est : “…..barangsiapa tinggal di dalam kasih, tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal  di dalam dia (1Yoh.4:16). Kitab Suci menceritakan kisah ikatan awali antara Allah dengan manusia yang mendahului penciptaan itu sendiri. Santo Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat Kristiani di Efesus, mengangkat kidung pujian dan syukur kepada Bapa, dimana berkat kebajikan-Nya yang tak terhingga, telah selama berabad-abad menyelesaikan rencana keselamatan universal tersebut, yaitu suatu rencana kasih. Santo Paulus mengatakan  bahwa Allah dalam diri Putera-Nya, telah memilih kita sejak sebelum penciptaan dunia, untuk menjadi kudus dan tak bercela di hadapan-Nya di dalam kasih (Ef.1:4). Allah mengasihi kita “jauh sebelum” kita ada. Hanya terdorong oleh kasih-Nya tanpa syarat, Allah telah menciptakan kita “bukan dari barang yang sudah ada (bdk. 2Mak.7:28), untuk menuntun kita ke dalam persekutuan dengan diri-Nya.

Dalam kekaguman yang amat besar akan penyelenggaraan ilahi itu, seorang pemazmur berseru: Jika aku melihat langit-Mu, karya jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau-tempatkan, apakah manusia itu sehingga Engkau mengingatnya? Siapakah anak manusia itu sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm.8:4-5). Kebenaran yang paling mendasar dari keberadaan kita termaktub dalam misteri yang menakjubkan ini: setiap makluk, khususnya  setiap pribadi manusia, adalah buah pikiran dan tindakan kasih Allah, suatu kasih tanpa batas, setia dan tak berkesudahan (bdk. Yer.31:3). Penemuan akan realitas kasih semacam ini sungguh-sungguh akan mengubah kehidupan kita secara mendalam. Dalam sebuah halaman yang terkenal dari buku “Pengakuan-pengakuan”-nya, Santo Agustinus mengungkapkan dengan perjuangan keras penemuannya akan Allah sebagai kasih dan keindahan yang amat menakjubkan. Dia adalah Allah yang selalu dekat dengan-nya, kepada-Nya Santo Agustinus akhirnya membuka pikiran dan hatinya untuk diubah: Terlambat sudah aku mencintai-Mu, Oh Keindahan lama yang selalu baru, terlambat sudah aku mencintai-Mu! Ya, karena ketika Engkau berada di dalam diriku, aku sendiri malah berada di luar sana, dan di luar sanalah aku mencari Engkau. Dalam ketidaksempurnaanku, kulemparkan diriku ke dalam benda-benda ciptaan-Mu yang indah. Dahulu Engkau bersama aku, namun aku sendiri malah tidak bersama Engkau. Benda-benda ciptaan-Mu telah membuatku terpisah dari pada-Mu; namun jika benda-benda ciptaan itu tidak ada di dalam diri-Mu, sesungguhnya mereka sama sekali tidak ada. Engkau memanggil, Engkau berseru-seru, Engkau menghancurkan ketulianku. Engkau memancarkan sinar-Mu dan Engkau mengusir kebutaanku. Engkau menebarkan keharuman-Mu, maka aku menghirupnya dan sekarang aku sangat merindukan-Mu. Aku telah menikmati Engkau, maka sekarang aku semakin lapar dan haus akan Engkau. Engkau menyentuhku dan aku terbakar oleh kerinduan akan damai-Mu (X. 27.38). Dengan gambaran ini, Santo dari kota Hippo berusaha melukiskan misteri yang tak terperikan dari sebuah perjumpaan antara dirinya dengan Allah, dengan kasih-Nya yang mengubah seluruh hidupnya.

Itulah kasih tanpa batas, kasih yang mendahului kasih kita, kasih yang menopang dan memanggil kita sepanjang jalan hidup kita, kasih yang berakar dari anugerah bebas Allah. Khusus bicara tentang pelayanan imamat, pendahulu saya, Beato Yohanes Paulus II menegaskan bahwa setiap tindakan pelayanan, yang menghantar pada cinta dan pelayanan Gereja, harus mendorong untuk semakin menumbuhkan kasih dan pelayanan kepada Yesus Kristus sebagai Kepala, Gembala dan Mempelai Gereja, suatu kasih yang selalu menjadi suatu jawaban atas Kasih Allah yang bebas dan cuma-cuma dalam diri Yesus Kristus (Pastores Dabo Vobis, n kirim ke teman | versi cetak

Berita "Aggiornamento" Lainnya