Javascript DHTML Drop Down Menu Powered by dhtml-menu-builder.com
 

PENDIDIKAN CALON IMAM TANGGUNG JAWAB AWAM??? JAWABANNYA .......

Sabtu, 1 November 2008 08:19:22 Oleh : admin

Pertanyaan yang menarik di atas dapat ditanggapi dengan pelbagai macam jawaban. Salah satu jawaban datang dari GOTAUS (Gerakan Orang Tua Asuh Untuk Seminari). GOTAUS merupakan gerakan kaum awam, yang memiliki kepedulian akan pendidikan calon imam. Kegiatan mereka berupa usaha mengumpulkan dana untuk membantu pendidikan calon imam di Indonesia. Keberadaan GOTAUS didahului dan tidak lepas dari munculnya SEMANGAT, suatu gerakan yang sama, yaitu gerakan kaum awam yang peduli akan pendidikan calon imam. SEMANGAT juga berkecimpung dalam bidang pencarian dana guna membantu pendidikan calon imam di Indonesia. SEMANGAT lebih memberi bantuan dalam pengadaan sarana-prasarana (pembangunan gedung, pembelian buku, dsb.). Sedangkan GOTAUS memfokuskan bantuannya untuk “living cost” para calon imam.

GOTAUS yang kurang lebih sudah sembilan tahun berkiprah membantu pendidikan calon imam, meski baru diresmikan pada 10 Mei 2001, lahir di Jakarta dan “lingkup kerjanya” juga di Jakarta dan sekitarnya. Selama kurun waktu itu sudah banyak yang dikerjakan GOTAUS untuk seminari-seminari di Indonesia, terutama melalui bantuan dana “living-cost” para calon imam. Komisi Seminari KWI sangat menghargai jerih payah GOTAUS dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan GOTAUS selama ini.

Apa yang dilakukan GOTAUS merupakan suatu contoh kesadaran kaum awam bahwa mereka pun bertanggung ajawab dan perlu terlibat dalam pendidikan calon imam. Hal ini tentu merupakan suatu yang menggembirakan, karena pendidikan calon imam memang juga menjadi tanggung jawab kaum awam di samping hierarki. Keterlibatan kaum awam dalam pendidikan calon imam bukan merupakan hal yang aneh, karena pendidikan calon imam memang menjadi tanggung jawab seluruh Gereja (baca: semua umat). Maka usaha GOTAUS Jakarta agar di tempat-tempat lain di luar Jakarta muncul GOTAUS-GOTAUS baru setempat sangat tepat. Syukur kepada Allah di Surabaya dan Samarinda telah lahir GOTAUS baru. GOTAUS di Surabaya berlindung pada St. Mikael .
Memang ada lembaga yang secara khusus dipercaya dan diserahi tugas untuk melaksanakan pendidikan calon imam, yaitu seminari, novisiat, TOR (Tahun Orientasi Rohani) atau rumah bina lainnya. Namun hal itu tidak berarti umat lainnya tidak perlu ikut terlibat atau mengambil bagian di dalamnya. Mengapa demikian?

Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya mempunyai pemimpin. Tugas kepemimpinan umat, yang meliputi pelayanan bidang pengudusan, pewartaan dan penggembalaan, diserahkan kepada para Rasul, yang dilanjutkan oleh para uskup. Pada gilirannya para uskup dibantu oleh para imam dalam menjalankan tugas kepemimpinan mereka. Dengan demikian keberadaan para imam sebagai pemimpin umat merupakan suatu keharusan. Hal itu berarti keberadaan imam tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Gereja. Gereja baru lengkap dan dapat menjalankan tugas perutusan dan pelayanannya secara lengkap kalau ada imam.  Imam berasal dan dipilih dari umat. Dengan mengingat hal itu semua, sudah sewajarnya Gereja mengusahakan adanya imam beserta pendidikan calon imam sebagai wujud tanggung jawabnya.

Pentingnya keterlibatan dan tanggung jawab kaum awam dalam pendidikan calon imam mempunyai alasan lain yang pantas diperhatikan. Dalam menghadapi zaman yang penuh tantangan seperti sekarang ini dibutuhkan orang beriman yang bermutu, yaitu orang yang sungguh-sungguh menghayati hidupnya atas dasar dan sesuai dengan imannya. Iman yang bermutu memang diperlukan umat dalam menghadapi tantangan-tantangan zaman yang tidak kecil dan sarat dengan daya tarik-daya tarik yang serba menggiurkan, tetapi menyesatkan. Agar umat memiliki iman yang bermutu, kiranya diperlukan pula adanya pemimpin umat yang bermutu, yang mampu membimbing dan mengarahkan umatnya ke penghayatan hidup beriman yang bermutu. Pemimpin semacam itu tidak muncul dalam satu atau dua hari, tetapi memerlukan “pengemblengan” dan pembinaan yang lama dan sungguh-sungguh. Pembinaan semacam itu memerlukan keterlibatan banyak orang, yang rela menyumbangkan entah waktu, tenaga, pemikiran, ataupun “isi koceknya”. Di situlah kaum awam, bersama umat beriman lainnya (hierarki dan kaum religius), berperan dan bertanggung jawab.

BEBERAPA CARA

Tanggung jawab dan keterlibatan kaum awam dalam pendidikan calon imam dapat terlaksana melalui beberapa cara, antara lain

a. Doa
Imamat adalah anugerah., artinya menjadi imam bukan pertama-tama hasil prestasi seseorang, tetapi pemberian yang dianugerahkan Tuhan secara cuma-cuma. Justru karena menjadi imam merupakan anugerah, maka perlu dimohon. Gereja, termasuk kaum awam, perlu menghaturkan permohonan kepada Tuhan, agar berkenan memanggil putera-puteranya menjadi imam. Di situlah terletak pentingnya doa. Disamping memohon panggilan imam, Gereja juga perlu berdoa bagi para imam agar dapat menjalankan tugas pelayanan imamat mereka dengan baik. Para calon imam pun perlu didoakan, agar menanggapi panggilan Tuhan dengan tekun dan bersemangat di kancah tantangan-tantangan zaman yang tidak kecil ini. Memang bagi sebagian umat, atau bisa jadi untuk sebagian besar umat, hidup dan panggilan imamat tidak hanya kurang menarik, tetapi sekaligus dirasakan penuh tantangan.

b. Kehidupan keluarga yang harmonis
Panggilan menjadi imam tidak muncul begitu saja. Seorang imam memberi kesaksian bahwa panggilannya muncul dari keluarganya. Kehidupan dan kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan keluarga dalam dirinya membuatnya tertarik melayani orang lain dengan menjadi imam. Keluarga yang harmonis dan penuh kasih membantu tumbuhnya benih panggilan yang kemudian ditumbuh kembangkan di seminari. Oleh karenanya bila Tuhan berkenan menancapkan benih panggilan dalam keluarga Anda, jangan ditolak atau dicabut; sebaliknya, perlu disyukuri dan dipelihara baik-baik agar tumbuh subur.

c. Sumbangan pemikiran
Meski arah dan tujuan pendidikan calon imam tetap sama, namun proses dan pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Calon imam masa kini adalah anak zamannya. Ia lahir, dibesarkan dan hidup ditengah zaman yang tidak sama denga zaman 20–30 tahun yang lalu. Hal ini tentu berpengaruh dalam proses dan pelaksanaan pembinaannya sebagai calon imam. Proses dan pelaksanaan pendidikan calon imam masa kini perlu dipikirkan, direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa, hingga dapat bergaung dan bermakna bagi remaja zaman sekarang. Berkaitan dengan hal itu, kiranya para pendidik di seminari memerlukan sumbangan pemikiran, terutama dari para pakar pendidikan dan kejiwaan, bagaimana cara mempersiapkan, membina dan membimbing para calon imam zaman sekarang, agar mereka dapat menanggapi panggilan mereka sesuai dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Sebagai contoh bagaimana membina calon imam agar dengan tekun dan penuh komitmen menanggapi panggilannya pada zaman, dimana para remajanya cepat merasa bosan dan menggunakan rasa suka atau tidak suka sebagai kriterium pengambilan keputusan, juga dalam hal-hal yang penting, seperti panggilan? Bagaimana membina calon imam agar dapat hidup sederhana ditengah-tengah kehidupan yang serba wah dan konsumeristik?

d. Sumbangan finansial
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa pendidikan yang baik memerlukan banyak duit. Begitu juga pendidikan calon imam memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk keperluan sekolah, kehidupan sehari-hari, pembangunan gedung serta pengadaan sarana-prasana lainnya. Jelas tidak mungkin membebankan seluruh pembiayaan pendidikan calon imam kepada seminari atau orang tuanya. Di salah satu seminari setiap seminaris menghabiskan biaya sekitar Rp. 600.000,- per bulan. Dari jumlah itu sumbangan finansial yang diterima dari orang tua berkisar Rp. 200.000,- atau mencakup 30-33 % dari keseluruhan biaya yang diperlukan. Maka dalam hal ini uluran tangan dari umat diperlukan dan sangat membantu.

 

AKHIR KATA

Sangat menggembirakan bahwa kesadaran umat untuk ikut bertanggung jawab dalam pendidikan calon imam sudah mulai nampak. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan mengalirnya perhatian dan bantuan dari kaum awam, entah dalam bentuk doa, pemikiran, tenaga, ataupun finansial ke seminari-seminari, baik secara pribadi, melalui paroki, maupun melalui lembaga. Semoga apa yang telah dilakukan oleh GOTAUS menjadi pendorong, agar semakin banyak umat yang terlibat dalam pendidikan calon imam sebagai wujud tanggung jawab mereka dalam pengadaan dan pembinaan imam/calon imam di Indonesia. Semoga Tuhan memberkati dan mengingat kebaikan dan kemurahan hati GOTAUS dan para penderma lainnya. Amin. 

 

FX. Adisusanto, SJ
Mantan Sekretaris Eksekutif Seminari KWI -- GOTAUS

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya